[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Selamat malam bapak dan ibu semua nya

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
malam ini kita akan melaksanakan kulgram dengan tema Complex Problem Solving yang akan dibawakan oleh Pak Don Sadana

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Sebagai informasi bulan ini Rumah MSDM menginjak umur 1 tahun dan dalam 1 tahun ini kita sudah melakukan 40 Kulgram dengan topik yang beragam dan pemateri yang beragam pula

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Malam ini saya akan bertindak sebagai moderator

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Seperti biasa saya akan menuliskan kembali aturan main Kulgram

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
1. Peserta Kulgram diminta untuk tidak menyela (dengan chat) baik komentar ataupun pertanyaan kecuali diminta oleh moderator.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
2. Pertanyaan Kulgram bisa dikirimkan ke link ini [https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/].

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Sebelum mempersilakan pak Don memulai Kulgram, saya akan menceritakan latar belakang beliau

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Dr. Don Sadana memiliki latar belakang pendidikan Doctor in Business Administration dan Magister Sains Administration and Human Resources Development, University of Indonesia.
Aktif di IICD, KNKG, National Certified Lecturer, Asosiasi Dosen Indonesia.
Pak Don Sadana berpengalaman sebagai Trainer & Consultant for human capital development di Perbanas Institute, public training, and national bank (Mandiri, BCA, BTN, BJB, Bank Jatim, dll). Pernah menjadi juri untuk Indonesia Human Capital Award 2015-2017, Anugerah Perbankan Indonesia 2013-2017, Indonesia Multifinance Award 2014-2017, Indonesia Insurance Award 2014-2017 Anugerah Perusahaan Terbuka 2014 & 2017.
Pak Don juga menjadi dosen (S2/S1/D3) Univ. Pelita Harapan, Lembaga Administrasi Negara, Universitas Terbuka, Perbanas Institute, UPN Veteran, Stikom Interstudi, Aksek Tarakanita, Aksek Interstudi, dll.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Oke..tentunya kita tidak sabar lagi untuk mendapatkan tambahan ilmu malam ini mengenai Complex Problem Solving

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silakan pak Don

[Forwarded from Don Sadana]
Selamat malam, Ibu, Bapak, dan Saudara sekalian. Terima kasih atas kesempatan istimewa ini😁

[Forwarded from Don Sadana]
Terima Kasih mba Indria, yang memoderatori pertemuan kita malam hari ini.

[Forwarded from Don Sadana]
Saya akan berbagi pengetahuan dan pengalaman saya tentang situasi permasalahan yang tidak terstruktur. Kadang-kadang disebut juga sebagai Messy Situation. Dalam hal ini, sekaligus saya mendorong digunakannya pendekatan Serba Sistem.

[Forwarded from Don Sadana]
Complex Problem Solving (CPS) adalah paradigma baru dalam menyelesaikan masalah atau permasalahan. Dalam hal ini masalah dimaksudkan sebagai problem, sedangkan permasalahan adalah problematics. Problem atau masalah biasanya dapat didefinisikan dengan jelas dan terukur, sedangkan permasalahan bersifat susah didefinisikan dan diukur.
Problem umumnya bersifat kuantitatif dan past oriented, sehingga sering kali dengan bantuan statistik dapat diperoleh jawabannya. Namun demikian banyak pula masalah masa lalu yang bersifat kualitatif sehingga solusi alternatifnya tidak cukup dijelaskan dengan statistik. Permasalahan biasanya susah didefinisikan, namun terasakan. Misalnya: kemacetan adalah problematics, sedangkan datang terlambat adalah problem.

[Forwarded from Don Sadana]
Menurut World Economic Forum, Complex Problem Solving (CPS) adalah salah satu dari 10 skill utama yang dibutuhkan seorang profesional.

[Forwarded from Don Sadana]

Kita tahu melalui world economic forum, diperoleh gambaran 10 keterampilan yang paling dibutuhkan pada 2015 lalu, serta prediksi pada 2020. Hal ini berlaku juga untuk Indonesia.

[Forwarded from Don Sadana]
Sebenarnya CPS sudah ada sejak 1978. Patton menekankan cara pemecahan masalah CPS “a way of breaking down the complexity of the real world”. Ini sejalan dengan pemikiran Tom Peter dalam In Search of Excellence (1982) dengan 7 S-nya.

[Forwarded from Don Sadana]
McKinsey 7S Factor dikelompokkan menjadi:
1. Soft elements.
Soft Elements lebih sulit dideskripsikan, less tangible dan dipengaruhi budaya, yaitu: Shared Values, Skills, Style, Staff.

2. Hard elements
Hard Elements lebih mudah didefinisikan dan ditentukan dan manajemen dapat langsung mempengaruhinya, yaitu: Strategy, Structure, Systems. Namun demikian, systems dalam 7S yang dikategorikan hard ini telah mengalami perluasan dan pendalaman. Hal ini akan saya jelaskan kemudian, karena terkait erat dengan metodologi CPS.

[Forwarded from Don Sadana]

Berikut ini Gambaran Konsep 7S Mckinsey yang dipelopori oleh idola saya yaitu Tom Peters.

[Forwarded from Don Sadana]
Systems sebagai kata asal dapat menjadi kata dasar systematic dan systemic. Kata dasar systematic terkait erat dengan system dalam hard element menurut McKinsey, sedangkan systemic adalah suatu upaya baru yang oleh Peter Checkland (1982 & 2006) diberi pengertian sebagai segala sesuatu terkait dengan human activity systems (HAS).

[Forwarded from Don Sadana]
Kedua Peter inilah (Tom Peters dan Peter Checkland) yang memicu saya untuk mendalami jawaban atas Complex Problem Solving.

[Forwarded from Don Sadana]
Lalu apa hubungan antara CPS, HAS dengan peran professional MSDM?

[Forwarded from Don Sadana]
Peran utama profesional MSDM adalah memimpin perubahan. Kualitas perubahan dalam dunia usaha dan organisasi saat ini dapat dilihat dari keputusannya membuat solusi alternatif yang berkelanjutan. Secara teoritis metode pemecahan masalah HAS untuk situasi kompleks cenderung messy disebut soft systems methodology (SSM).

[Forwarded from Don Sadana]
Pada pemikiran saya, human activity systems sangat erat terkait dengan upaya pencarian solusi alternatif saat ini.

[Forwarded from Don Sadana]
SSM dapat menjawab permasalahan saat ini yang disrupted. Perubahan cepat menjadi warna sehari-hari dunia bisnis. Penolakan dan retensi perubahan menjadi makanan sehari-hari. Oleh karena itu professional MSDM yang bertanggung jawab dalam learning dan growth (BSC, 1992) perlu alat untuk memahami hal konteks dan bukan hanya konten masalah. Pembelajaran menjadi menu utama professional SDM: mulai dari change sponsor, change agent, change target, sampai change champion (pemenang perubahan, Ulrich 2012).

[Forwarded from Don Sadana]
Di Indonesia, beberapa perguruan tinggi dan praktisi baik dari dunia bisnis maupun pemerintah sudah mengadopsi pendekatan ini.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Pak Don, kita break sebentar ya..memberikan kesempatan bapak ibu untuk mencerna

[Forwarded from Don Sadana]
86 Komandan…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
jadi Complex Problem Solving ini salah satu skill utama yang dibutuhkan saat ini dan di masa datang..hhmm jadi makin tertarik mempelajarinya

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
bagi bapak dan ibu yang sudah memiliki pertanyaan, bisa dikirimkan melalui link https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

Baca juga:  Implementasi Sertifikasi Profesi berbasis SKKNI di Perusahaan - PT Spindo, Tbk

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
pak Don kalau sudah siap untuk melanjutkan, saya persilakan

[Forwarded from Don Sadana]
Baik mba…

[Forwarded from Don Sadana]
Saya akan perkenalkan pelopor SSM di Indonesia.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
siap

[Forwarded from Don Sadana]
Hardjosoekarto (2012) menyatakan, “SSM adalah proses mencari tahu yang berorientasi aksi atas situasi problematis dari kehidupan nyata sehari-hari, para pengguna SSM melakukan pembelajaran yang dimulai dari menemu-kenali situasi sampai merumuskan dan atau mengambil tindakan guna memperbaiki situasi problematis tersebut. Proses pembelajaran terjadi melalui proses yang terorganisir, dimana situasi nyata diekplorasi dengan menggunakan alat intelektual- yang memungkinkan terjadinya diskusi yang terarah- yang disebut sejumlah model aktivasi yang punya maksud yang dibangun berdasarkan sejumlah sudut pandang (worldviews) yang murni.”

[Forwarded from Don Sadana]
Penggunaan metode SSM dapat membantu untuk menjelaskan pola pikir manusia yang kompleks, terutama yang berkaitan dengan perilaku, respon terhadap suatu permasalahan yang hadir.

[Forwarded from Don Sadana]
Aktivitas yang punya maksud (HAS) itu dapat diuraikan ke dalam beberapa elemen, dimana keenam elemen tersebut mencerminkan:=
1. Pihak yang punya niat atau kehendak.
2. Pihak yang melakukan tindakan.
3. Pihak yang terkena dampak dari tindakan.
4. Tempat dimana tindakan itu diakukan.
5. Kendala terkait dengan tempat dan lingkungan di tempat ini.
6. Pihak yang dapat menghentikan dilakukannya tindakan itu.

[Forwarded from Don Sadana]
Jadi, SSM agak berbeda atau dapat dikategorikan pendekatan kualitatif. Namun, dapat juga dianggap sebagai suatu pendekatan baru dalam hal riset.

[Forwarded from Don Sadana]
Yang utama dalam riset tindakan ini adalah pembelajaran.

[Forwarded from Don Sadana]
Pembelajaran tersebut terjadi pada level individu, kelompok, dan organisasi. Saya amati, profesi MSDM sedang panen dengan pemikiran dan praktik pembelajaran. Hasilnya terlihat pada banyak pembelajaran pada tataran mikro organisasi, mezzo industry, maupun makro nasional-global. Saya bersyukur menjadi bagian tersebut sehingga dapat menerangjelaskan kompetensi (competency) atau kompetensi SDM, kompetensi MSDM (HR competency), dan kompetensi inti (core competency)

[Forwarded from Don Sadana]
Terminologi kompetensi rasanya belum semua pihak memahami apalagi mengadopsi menjadi hal yang harus dipertimbangkan dalam praktik MSDM, khususnya terkait dengan penghargaan.

[Forwarded from Don Sadana]
Sampailah kita sekarang pada langkah-langkah yang telah dimulai oleh Peter Checkland pada 1982.

[Forwarded from Don Sadana]
Langkah-langkah CPS merupakan siklus yang memiliki tujuh tahapan yang dikelompokkan menjadi dua bagian:
1. bagian real world

[Forwarded from Don Sadana]

2. bagian serba sistem (systems thinking about real world)

[Forwarded from Don Sadana]
Langkah 1 dan 2 diperoleh melalui dialog, indepth interview, dan FGD sehingga menghasilkan gambaran kaya (rich picture)

[Forwarded from Don Sadana]
Saat ini kita perlu penyadaran tentang real world dengan pendekatan serba sistem (systems thinking) bukan sekedar berpikir kesisteman (system thinking). Artinya kompleksitas saat ini tidak dimaknai sekedar seperti mesin jet yang canggih (complicated), namun complex (messy situation) dengan multi sistem seperti sistem tubuh manusia atau alam semesta.

[Forwarded from Don Sadana]
Dalam hal ini, perlu dibedakan antara berpikir kesisteman dengan berpikir serba sistem.

[Forwarded from Don Sadana]
18 tahun kemudian, model ini disederhanakan.

[Forwarded from Don Sadana]
Chekland dan Scholes (2006) jmemberikan empat tahap siklus modifikasi SSM yaitu:
1.Tahap Finding out, yaitu tahap pengenalan, pemahaman dan pencarian informasi dasar tentang situasi dunia nyata yang dianggap problematis.

[Forwarded from Don Sadana]
2.Tahap Modeling, yaitu tahap pembuatan model atau sejumlah model dari sistem aktivitas manusia.

[Forwarded from Don Sadana]
3. Tahap using model to structure debate, yaitu tahap penggunaan model untuk melakukan pembahasan, diskusi, dan debat tentang situasi dunia nyata yang dianggap problematis yang telah dirumuskan dan ditetapkan sejak awal penelitian.

[Forwarded from Don Sadana]
4. Tahap definding/taking action yaitu tahap melakukan perumusan dan tindakan yang berkaitan dengan dunia nyata yang dianggap problematis.

[Forwarded from Don Sadana]
Singkatnya, Keempat tahap itu dapat diringkaskan pula menjadi analisis 2 tahap.

[Forwarded from Don Sadana]
Checkland dan Scholes mengkategorikan SSM dalam dua kategori, yaitu :
1. Stream of cultural analysis yaitu analisis berbasis cultural utamanya berlangsung pada tataran dunia nyata yaitu pada tahap kesatu, kedua, kelima, keenam dan ketujuh.
2. Logic based stream of analysis yaitu analisis berbasis logika utamanya berlangsung pada tahap berpikir serba sistem, yaitu pada tahap ketiga dan keempat.

[Forwarded from Don Sadana]
Salah satu contoh yang menarik adalah kepemimpinan pada pemerintahan daerah dan nasional saat ini.

[Forwarded from Don Sadana]
Dari literatur sosiologi pernah diteliti situasi permasalahan di Surakarta ketika Jokowi menjadi walikota dibandingkan dengan kota Depok. Terlihat kemampuan pemimpin membawa perubahan yang bisa diterima oleh segenap stakeholder di Surakarta dibandingkan di Depok. Kesuksesan perubahan di Surakarta membawa Jokowi ke Jakarta menjadi gubernur, dan sekarang dengan cara yang kurang lebih sama (Soft Systems, tanpa disadari) beliau menjadi presiden. Karena dalam SSM analisis messy situation sekadar analisis peran–ranah politik (dalam arti power), tetapi juga, analisis sosial dan analisis norma. Sama seperti pada perusahaan ada visi, misi, strategi, goals, dan values (VMSGV).

[Forwarded from Don Sadana]
Dari sisi pembelajaran, dapat dilakukan beberapa tahap proses perubahan.

[Forwarded from Don Sadana]
Analisis pembelajaran pertama terkait dengan world of view dari stakeholder menghasilkan gambaran kaya (rich picture=RP). Penyadaran ini merupakan tahap finding out yang menghasilkan akar permasalahan (root definition=RD).

[Forwarded from Don Sadana]
Jika tidak disepakati akar permasalahannya, maka dilakukan proses ulang secara dinamis melalui komunikasi (in depth interview, focus group discussion, dll.) agar ditemukan system yang dianggap bermasalah dari proses participative tersebut. Dengan demikian perubahan atau transformasi tersebut perlu difasilitasi oleh praktisi SSM agar terjadi trajektori atau pembelajaran terarah berkelanjutan dari individu, kelompok, dan organisasi.

[Forwarded from Don Sadana]
Bila Rich Picture dan Root Definition sudah diketahui, sampailah kita kepada langkah terpenting dalam SSM yaitu model konseptual (conceptual model=CM). Model konseptual adalah alat utama praktisi SSM untuk memulai tindakan konfirmasi model (debating) serta perubahan yang diinginkan (desirable changes) dan dapat dilaksanakan (culturally feasible changes). Di sini terjadi lagi pembelajaran, sehingga proses double loop learning ini disepakati melalui pembandingan CM dengan RP.

Baca juga:  Langkah Pelaksanaan Analisa Jabatan

[Forwarded from Don Sadana]
Model Konseptual adalah keunikan CPS karena harus ditindaklanjuti, bukan berhenti sebagai suatu model yang perlu dibuktikan atau diuji. Pengujian melalui debating.

[Forwarded from Don Sadana]
Hasil dari debating adalah kesepakatan perubahan. Debating diharapkan menjadi suatu proses radikal dan mendalam sehingga membuat rencana perubahan yang nyata sebagai solusi permasalahan kompleks (CPS). Sampai di sini solusi alternative pemecahan masalah kompleks (CPS) dapat diakhiri dengan menuliskan rencana tindakan nyata. Langkah terakhir adalah mengambil keputusan dalam situasi kompleks (Complex Decision Making) oleh segenang stakeholder.

[Forwarded from Don Sadana]
CPS menggunakan SSM, dapat juga dilakukan pada level individu, kelompok, maupun organisasi, serta industri.

[Forwarded from Don Sadana]
Praktik SSM bisa dilakukan pada level individu. Misalnya dalam konteks personal balanced scorecard. Untuk mendapatkan gambaran strength typology seseorang, kiranya tidak mungkin menggunakan sudut pandang tunggal. World of view segenap pihak terkait perlu diperhatikan dalam menemukan anchor sebagai kompetensi pribadi (SDM) yang dapat dikembangkan sebagai jangkar karir. Sehingga kita bisa berpindah keahlian tanpa merasa mengingkari pembelajaran masa lalu kita. Misalnya banyaknya lulusan IPB atau ITB yang menjadi banker, jurnalis, atau aktivis LSM.

[Forwarded from Don Sadana]
KIta tidak bisa mengetahui HAS seseorang, meskipun dia secara fisik berada di dekat kita.

[Forwarded from Don Sadana]
Ada beberapa hal yang perlu dipahami bersama. Metode SSM ini belum disepakati dalam konteks mainstream metodologi penelitian: kuantitatif-kualitatif. Jadi bisa dikatakan masih menjadi topik panas (hot topic). Akibatnya banyak akademisi dan praktisi yang mesti menduduki “kursi panas” dikritisi oleh berbagai pihak saat mempertahankan penelitiannya, baik di mimbar konferensi maupun di jurnal, tesis, dan disertasi. Namun inilah justru untungnya, diskusi SSM jadi bertambah luas. Saat ini setahu saya yang banyak mengembangkan SSM adalah UI, IPB, ITB, UGM dan Perbanas Institute.

[Forwarded from Don Sadana]
Saya pribadi secara konsisten menggunakan pendekatan SSM, System Thinking, serta SystemS Thinking dalam setiap pelatihan, konsultasi, dan pengajaran.

[Forwarded from Don Sadana]
Sebuah penelitian tentang desain ulang kebijakan tunjangan kesehatan untuk meningkatkan kinerja menghasilkan sebuah rekomendasi coordination of benefit antara penggunaan BPJS Kesehatan yang mandatory dan BPJS pada perusahaan M-150 di Indonesia dan OSOTSPA yang berkantor pusat di Thailand.

[Forwarded from Don Sadana]

Penelitian tentang penggunaan BPJS, serta asuransi lain sebagai tunjangan adalah analisis mikro organisasi, mezo industri, dan kebijakan pemerintah.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
pas jam 9 lebih 1 menit

[Forwarded from Don Sadana]
HEHEHE….😁

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
sambil menunggu pertanyaan masuk, saya akan memberikan kesempatan pak Don untuk break sebentar

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
materi yang sangat menarik untuk dipelajari

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
bagi bapak ibu yang memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai Complex Problem Solving, silakan menggunakan link https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
ada pertanyaan yang sudah masuk

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
dari pak Heru Wiryanto (Bandung Innovation Factory)
Saya sedang eksplorasi pengembangan CP ini dengan bantuan Machine Learning dan Deep Learning, adakah saran Bapak utk mempercepat terwujudnya hal tersebut.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silakan pak Don

[Forwarded from Don Sadana]
Wow, saya jadi teringat dengan Bapak Administratif Behaviour yaitu Herbert Simon yang juga sekaligus mengemukakan Artificial Intellegents dalam rentang 25 tahun sampai medapatkan hadiah nobel. Dalam pendekatan systems thinking atau serba sistem sifat inclusive di kedepankan. Apa yang dilakukan Pak Hery Wiryanto sungguh luar biasa.

[Forwarded from Don Sadana]
Dalam pendekatan kesisteman, dikenal 2 mashab: soft system dan hard system. Soft system menggunakan SSM dan yang lainnya. Hard System menggunakan system Dynamic yang bisa dimodelkan melalui komputer. Rasanya ini yang menjadi PR bagi kita semua, khususnya di era DT (Data Technology).

[Forwarded from Don Sadana]
Tentunya Pak Heru dapat mengikuti sikap inklusif ini untuk mencapai outcome yang diharapkan dalam penelitian Bapak.

[Forwarded from Don Sadana]
Begitu Pak Heru sementara jawaban saya. Apakah saya boleh bertanya balik?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
boleh pak

[Forwarded from Don Sadana]
Apakah pak Heru mendevelop software sendiri atau menggunakan yang sudah ada untuk mengoptimalkan pemakaiannya?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
pak Heru @Abu_Amany_Assundawy silakan untuk menjawab

[Forwarded from Don Sadana]
Saya tambahkan: penggunaan SSM pada ilmu komputer, baik sistem komputer maupun sistem informasi, cukup banyak. Salah satunya adalah oleh Chelckland dan Sue Holwell yang diterbtkan dalam bukunya pd 1998, Information, Systems and Information Systems, Wiley (with Sue Holwell)

[Forwarded from Heru Wiryanto]
platform piranti lunaknya saya pake open source pak (maklum modalnya kecil) jadi dikembangkan sesuai kebutuhan klien selama ini pake R atau python sebagai engine untuk ngebangun dan menguji modelnya. beberapa yg keberatan utk yg pseudo coding saya arahkan menggunakan yg versi cloud meski beberapa berbayar, namun enginenya ya tetep dua itu kalo nggakk R ya python.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Oke terima kasih pak Heru atas tanggapannya.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Kita lanjut ke pertanyaan kedua

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Dari pak Tosi Fajar (Boehringer Ingelheim Singapore)
Malam Pak Don.
Terima kasih atas sharingnya yang bermanfaat. Apakah metode CPS ini bisa digunakan secara simpel dan praktis oleh individual, misalnya karyawan?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silakan pak

[Forwarded from Don Sadana]
@Abu_Amany_Assundawy Wah, saya sungguh memeberikan apresiasi tinggi kepada usaha Bapak untuk memuaskan client dengan pendekatan inklusif yang berorientasi pelayanan.

[Forwarded from Don Sadana]
@Tosi_Fajar CPS dapat dilakukan pada level individu. Misalnya, untuk menentukan karir. Apakah mudah bagi seseorang untuk menemukan jangkar karir (Anchor). Untuk itu, CPS dapat menggunakan SSM untuk memulai mendapatkan gambaran kaya tentang dirinya menurut dirinya sendiri dan orang lain, misalnya atasan, rekan kerja, atau keluarganya. Tenutnya yang bersangkutan perlu SSM Expert untuk memfasilitasi perubahan yang diinginakan dan dapat dilaksanakan dalam memfasilitasi karisinya menuju puncak.

[Forwarded from Don Sadana]
Saya biasa menggunakan Timeline of Life berbasis kekuatan atau strength typology, serta positive psychology sebagai alat bantu untuk menemukan jangkar karir dan mengembangkannya.

[Forwarded from Don Sadana]
Mungkin bisa dilihat beberapa contoh yang ada di youtbue maupun instagram yang di upload oleh peserta pelatihan, maupun mahasiswa saya.

Baca juga:  Industrial Relations: Bersinergi dengan Serikat Pekerja

[Forwarded from Don Sadana]
Kata kuncinya “sadana” dan “visi pribadi”

[Forwarded from Don Sadana]

Beberapa jurnal juga telah saya upload di slide share.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Apakah jawaban untuk pak Tosi sudah cukup pak Don?

[Forwarded from Don Sadana]
sudah mba, Apakah untuk @Tosi_Fajar masih ada yang perlu diperjelas?

[Forwarded from Tosi Fajar]
Cukup pak, terima kasih 🙏

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Kita masuk ke pertanyaan ketiga

[Forwarded from Don Sadana]
Setahu saya ada juga aktivis lingkungan hidup yang menggunakan pendekatan SSM/CPS untuk menjalankan progrm community development daerah aliran sungai…

[Forwarded from Don Sadana]
Monggo mba Indria ….

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Dari pak denny Jd (PT HCG)
Selamat malam.
Di atas dijelaskan mengenai Model Chekland dan Scholes (2006) yang memberikan empat tahap siklus modifikasi SSM.
Mohon pencerahan mengenai:
Pertama, mohon dijelaskan lebih mengenai tahap ke-3 yaitu “Using Model to Structure Debate”. Mungkin bisa diberikan contoh. 🙏
Kedua, tahap ke-4, definding / taking action, ini hanya sebatas perumusan tindakan atau sampai pelaksanaan tindakan?
Terima kasih.

[Forwarded from Don Sadana]
Tahap ketiga bisa dilakukan oleh SSM Expert setelah akar permasalahan (root definition) dirumuskan.

[Forwarded from Heru Wiryanto]
terima.kasih pak Don Sadana atas jawaban dan apresiasinya…maaf baru balas barusan ada sinyal.lagi.

[Forwarded from Don Sadana]
Proses ketiga dan keempat ini, berlangsung timbal balik dan dinamis serta berulang-ulang baik secara personal, maupun kelompok. Hal ini bisa berlangsung lama dan menuntut komitmen dari segenap pihak terkait. Kadang seperti mati suri karena para pihak juga on dan off karena kegiatan lain di luar fokus permasalahan.

[Forwarded from Don Sadana]
Namun demikian, seorang praktisi/expert SSM harus memiliki persistensi dan konsistensi untuk meneruskan proses tsb. Sejauh yang saya alami sebuah penelitian bisa selesai dalam beberapa kali aktifitas pada tahap ini selama beberapa minggu sampai dua bulan.

[Forwarded from Don Sadana]
Pada kasus tunjangan kesehatan dengan BPJS dan asuransi swasta di atas selesai 3 bulan dengan hasil yang memuaskan karena kesepakatan dengan prinsipal di Thailand dengan kantor Jakarta mendapat sambutan yang baik dari para pegawai sebagai penerima manfaat.

[Forwarded from Don Sadana]
Selanjutnya untuk pertanyaan kedua…

[Forwarded from Don Sadana]
Keunikan dari Taking Action SSM dibandingkan Riset Tindakan lainnya (konvensional) adalah digunakannya pendekatan systemically desirable dan sekaligus culturally feasible. Yang dimaksud adalah tindakan tersebut menjadi kesepakatan Bersama, walaupun belum ditentukan tahapan-tahapan pelaksanaannya.

[Forwarded from Don Sadana]
@Abu_Amany_Assundawy gak apa-apa pak…monggo dilanjutkan. Senang mendapat informasi usaha Bapak. Kapan-kapan bisa dilanjutkan pak…ini sungguh berguna mendorong praktik HCM yang lebih optimal…

[Forwarded from Don Sadana]
Bagaimana pak @dennyjd apakah Bapak tertarik untuk mencoba CPS/SSM di kantor Bapak atau klien yang dipercayakan?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silakan pak @dennyjd

[Forwarded from denny Jd]
Terima kasih Pak @DonSadana saya tertarik untuk belajar lebih banyak lagi. Dan kalau ada kesempatan saya akan mencoba. 🙏

[Forwarded from Don Sadana]
Bagi saya kata kunci systemically desirable sangat cocok dengan manajemen di Indonesia yang beda dengan manajemen barat. Manajemen sering diibaratkan orkestra, namun saya rasa tidak sepenuhnya dapat dilakukan di Indonesia. Unsur irama dan melodi di Indonesia tidak bisa diakomodasikan spontanitasnya dengan partitur orkestra. Kita lebih cocok dengan gendang dan melodi pentatonik.

[Forwarded from Don Sadana]
@dennyjd dengan senang hati pak…kalau saya ke surabaya pasti saya akan kontak spy bisa kopdar…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Jadi di tahap 4 itu hanya sampai pada kesepakatan untuk suatu tindakan. Belum pada pelaksanaannya?

[Forwarded from Don Sadana]
boleh yah pak?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Stickernya saya delete ya pak hehe

[Forwarded from Don Sadana]
boleh bu….

[Forwarded from Don Sadana]
gpp monggo

[Forwarded from denny Jd]
Dengan senang hati.
Permisi menjawab bu @indriahapsari 🙏

[Forwarded from Don Sadana]
Kesepakatan untuk suatu tindakan bagi praktisi CPS/SSM adalah terminal, tapi bukan tujuan akhir. Artinya tahap ketujuh dari siklus tradisional bukan menjadi domain mereka. Apabila menjadi domain parkatisi CPS/SSM, maka tentu seyogianya dilaksanakan secara PROACTIVE bukan PREACTIVE. Bukan sekedar dokumen dan rencana strategis, namun rencana strategis yang baik karena bisa dilaksanakan dalam urutan kepentingan, kualitas, dan biaya.

[Forwarded from Don Sadana]
Begitu bu Indria, seperti kasus di OSOTSPA -M 150 terdahulu.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Terima kasih penjelasannya pak. Jadi kesepakatan tindakan itu bukan tujuan akhir

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Karena sudah jam 10 lebih, sebelum saya tutup. Saya persilakan pak Don untuk memberikan kesimpulan singkat

[Forwarded from Don Sadana]
Ya, bukan. Semua bisa bersifat seamless bu…

[Forwarded from Don Sadana]
oh…baiklah bu Indria.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silakan untuk kesimpulan akhir pak Don

[Forwarded from Don Sadana]
Baiklah. Singkatnya:

[Forwarded from Don Sadana]
Praktik CPS menggunakan SSM sudah cukup lama dan berkembang di negara asalnya, Inggris baik untuk swasta maupun pemerintah. Demikian juga di beberapa negara di Eropa, Asia dan Australia. Saya mengamati SSM cocok menjadi alternatif solusi pemecahan masalah SDM di Indonesia karena lingkungan akan makin kompleks sejalan dengan perkembangan sistem informasi, teknologi informasi, teknologi infomasi komunikasi, dan teknologi data. Hal ini didukung oleh budaya kesatuan tubuh (corporate culture) manajemen Indonesia yang menuntut komunikasi inklusif. Semoga dengan demikian keuntungan perusahaan sejalan dengan kesejahteraan karyawan secara berkelanjutan. Semoga!

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Wah ilmu yang menarik sekali malam ini untuk dipelajari lebih lanjut

[Forwarded from Don Sadana]
Begitu bu Indria kurang lebih yang dapat saya bagikan. Mohon maaf karena pasti banyak pertanyaan yang tidak dapat sepenuhnya ditanyakan…

[Forwarded from Don Sadana]
dan saya jawab secara memuaskan…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Terima kasih banyak pak Don untuk kesediaannya berbagi

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Nanti kalau ada pertanyaan lanjutan akan saya sampaikan

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Mohon maaf jika ada kekurangan. Dengan ini Kulgram saya tutup. Selamat malam