Beberapa waktu yang lalu, salah seorang manager HR diperusahaan saya mengusulkan program pelatihan bertajuk Emotional Intelligence, sebagai bagian leadership development program. Rupanya dia baru saja membaca brosur yang dikirimkan salah satu lembaga pelatihan terkemuka dan tertarik dengan program yang ditawarkan dan juga klaim benefit yang bisa di realisasikan. Seperti biasa, saya bertanya “ apa korelasi antara emotional intelligence dengan managerial effectiveness”? dengan kata lain, apa bottom line impact yang bisa di berikan kalau semua leaders di organisasi mempunyai emotional intelligence yang baik?

 

EMOTIONAL INTELLIGENCE (EI)

Karena saya juga awam ttg (EI), setelah perbincangan dengan manager tersebut, saya juga berusaha mencari tahu apa sebenarnya EI. Dari salah satu referensi yang saya dapat EI adalah kempuan untuk membaca sisi emosi orang lain. Jack Meyer dan Peter Salovey menjabarkan lebih lanjut empat hal yang menjadi elemen EI

·        Perceiving Emotion : kemampuan untuk mengidentifikasi secara akurat  emosi serta penyebabnya, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain

·        Using Emotion to Facilitate Thought: Kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tentang emosi untuk mempengaruhi cara berpikir diri sendiri atau orang lain. Contohnya, kita sering menggunakan “rasa takut” (deadline contohnya) untuk memotivasi diri sndiri atau orang lain supaya bisa menyelesaikan tugas tepat waktu. Contoh lain, karena kita mengetahui bahwa orang akan bekerja relative lebih efektif ketika berada dalam mood yang positif, kita sering meluangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang menumbuhkan mood positif sebelum memulai sebuah pekerjaan.

·        Understanding Emotion: Kemampuan untuk mengetahui bagaimanaemosi bisa mempengaruhi satu sama lain, bagaimana emosi tersebut bisa muncul dan bagaimana bisa merubahnya

Baca juga:  Pertanyaan & Jawaban Tentang Peran, Tanggung Jawab Dan Kontribusi Pimpinan Fungsi MSDM Dalam Korporasi.

·        Managing Emotion: kemampuan untuk menciptakan atau memperbaiki mood tertentu baik pada diri sendiri ataupun pada orang lain

 

HUBUNGAN EMOTIONAL INTELLIGENCE DAN PERFORMANCE

Kembali ke pembicaraan saya dengan manager HR, saya ingin memastikan bahwa ada value yang terukur yang bisa diperoleh organisasi dengan program pelatihan Emotional Intelligence ini. Pada awalnya saya berpikir bahwa kemampuan untuk memahami emosi orang lain akan menjadi “skill” berharga bagi para manager. Mereka akan menjadi lebih sensitive terhadap lingkungan dan bisa menyesuaikan diri serta cara berkomunikasi dengan baik. Pemikiran saya itu juga di perkuat oleh banyaknya “propaganda” yang mengatakan bahwa manager yang sukses memiliki EI yang tinggi. Tapi tunggu dulu. Kata salah satu guru saya, jangan cepat meng-aminkan opini yang populer. “selalu cari bukti” kata beliau. Perihal EI ini kan bukan topik bahasan baru, sudah ada bertahun-tahun. Tentu sudah banyak riset yang didedikasikan pada subject ini.

Saya menemukan satu artikel yang menyarikan hasil riset tentang Emotional Intteligence dan Job Performance

http://scienceforwork.com/blog/emotional-intelligence-performance/

Rupanya, EI bukanlah predictor yang baik untuk job performance ataupun managerial effectiveness. Mereka yang mempunyai tingat EI yang tinggi dinilai lebih karismatik dan memiliki kepekaan sosial yang baik : mereka di nilai lebih hangat, lebih simpatik dan dinilai sebagai individu yang menyenangkan oleh orang lain. Karena pekerjaan managerial selalu berhubungan dengan orang, kita mungkin berpikiran bahwa mereka yang memiliki kemampuan membaca emosi non-verbal akan lebih bisa “memanage” orang dengan lebih efektif. Tapi ternyata hasil riset mengatakan tidak.

Apakah riset tersebut cukup meyakinkan bagi saya? Tunggu dulu… Riset tersebut dilakukan di Amerika, di komunitas yang lebih mem-value individualism. Bagaimana dengan negara dengan budaya paternalist seperti Indonesia? Dimana leaders juga diharapkan mempunyai peran sebagai “bapak”. Di Indonesia, manager yang mampu membaca, menganalisa dan  menyikapi emosi dengan baik sangat mungkin menjadi manager yang efektif. Tentu saja si manager harus bisa “mengkolaborasikan” kemampuan tersebut dengan managerial skills yang lain untuk bisa menjadi efektif.

Baca juga:  Diskusi Pagi 29 Nopember 2016

Lalu bagaimana dengan pembahasan mengenai usulan pelatihan EI, saya minta manager HR tersebut untuk berbicara dengan provider training, apakah memungkin silabus training disesuaikan dengan memberikan penekanan pada “how to use EI to get things done”. Si manager segera paham, bahwa ketika berdiskusi dengan saya, akan berujung pada dua kalimat sakti “get things done” dan “ bottom line impact”…