Artikel Oleh: Arief Budiarto

1.PENDAHULUAN
Apakah memang cuaca itu berpengaruh bagi kita? Mari kita matikan pengatur suhu (AC) di ruang kita selama 30 menit. Bayangkan atap ruang kerja kita, beratap langit siang hari, selama 30 menit. Bayangkan  bila diminta bekerja kita di gurun Sahara, Afrika. Bagaimana suasana kerja yang berlangsung?
Pada tingkat manusia, perubahan suhu akan berpengaruh pada perubahan proses enzim.Suhu optimal manusia adalah 37C , dimana  Sebagian besar enzim  bekerja pada suhu optimum yang sama dengan suhu normal sel organisme tersebut. Kenaikan suhu di atas suhu optimum dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas enzim. Secara umum, tiap kenaikan suhu 10 derajat C, akan menimbulkan  kecepatan reaksi menjadi dua kali lipat dalam batas suhu yang wajar. pada enzim berlaku hal sama Panas yang ditimbulkan akibat kenaikan suhu dapat mempercepat reaksi sehingga kecepatan molekul meningkat. Hasilnya adalah frekuensi dan daya tumbukan molekuler juga meningkat. Akibat kenaikan suhu dalam batas tidak wajar, terjadi perubahan struktur enzim (denaturasi). Enzim yang terdenaturasi akan kehilangan kemampuan katalisnya (http://kliksma.com/2014/11/pengaruh-suhu-pada-aktivitas-enzim.html)
Dashyatnya pemanasan global digambarkan Mark Lynas dalam bukunya Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet (2007). Skenario suhu naik, digambarkan sebagai berikut:

Suhu Udara Naik 1ºC
Glacier di puncak gunung mencair. Laut yang mulai kehilangan lapisan es di atasnya akan menyerap panas lebih banyak dan mempercepat pemanasan global; air tawar lenyap dari sepertiga permukaan Bumi; permukaan air laut naik, sehingga daerah dataran rendah di pesisir pantai akan diterendam   Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan 2016 sebagai tahun terpanas dalam sejarah. Suhu atmosfer Bumi rata-rata dalam setahun naik 1,1 derajat celsius dibandingkan periode sebelum Revolusi Industri 1850-1899. Itu memicu anomali iklim di dunia, termasuk Indonesia.

Suhu Udara Naik 2ºC
Eropa menerima paparan panas yang tinggi (contohnya  musim panas di Eropa, tahun 2003); hutan-hutan rusak karena terbakar;  gangguan pada tanaman-tanaman sehingga bukannya menyerap karbon, mulai melepaskan karbon yang pernah diserapnya ke atmosfer; sepertiga spesies di dunia terancam punah.Laut menjadi asam, kehidupan makhluk kerang menjadi  terganggu

Suhu Udara Naik 3ºC
Karbon yang dilepaskan oleh tanaman dan tanah di Bumi mempercepat pemanasan global; matinya hutan hujan Amazon; angin topan dahsyat menghantam kota-kota pinggir laut;  gurun Sahara meluas sehingga tanah menjadi tidak layak tanam dan memicu kelaparan di Afrika.

Suhu Udara Naik 4ºC
Mencairnya lapisan es yang tak terkendali mengakibatkan pemanasan global tak dapat dihentikan; sebagian besar wilayah Inggris tidak dapat dihuni lagi karena terbenam banjir, hal ini mendorong migrasi besar besaran ; wilayah Mediterania ditinggalkan penduduknya.

Suhu Udara Naik 5ºC
Gas metana yang keluar dari dasar laut mempercepat pemanasan global; es di Kutub Utara dan Kutub Selatan habis, karbon yang terjebak dalam lapisan es: ; manusia berpindah-pindah tempat untuk mencari makanan dan mencoba, meskipun sia-sia, hidup seperti hewan di alam liar.

Suhu Udara Naik 6ºC
Sebagian Kehidupan di Bumi berakhir akibat badai besar, banjir bandang, bola api hidrogen sulfida dan metana berputar-putar cepat melintas di seluruh dunia dengan kekuatan bom atom; hanya jamur yang dapat bertahan hidup.

Baca juga:  HR Metric: What Are Your Limping Cows?

2.DAMPAK PERUBAHAN

  1. Migrasi

Efek Perubahan iklim (ini nyata) sungguh dashyat, karena mendorong migrasi penduduk kebelahan dunia lainnya. UNHCR(2016) mencatat, sejak 2008, rata rata setahun terjadi migrasi 21,5 juta orang, karena dipaksa oleh perubahan iklim ekstrim seperti kekeringan dan penaikan muka air laut ditepi pantai. Gleick (2014) menjelaskan Perang saudara yang  saling menghancurkan  di Suriah  dimulai  bulan Maret 2011. Ini  merupakan resultante dari faktor-faktor yang saling terkait. Fokus konflik adalah perubahan rezim. namun pemicu tersebut mencakup serangkaian faktor keagamaan dan sosiopolitik yang luas, erosi kesehatan ekonomi negara, gelombang reformasi politik yang melanda di Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) dan tantangan yang terkait dengan variabilitas iklim dan perubahan dan ketersediaan dan penggunaan air tawar.

  1. Pertanian

Bagi  petani tidak ekonomisnya  lahan pertanian akan menyebabkan  terjadinya alih fungsi lahan dan bergantinya corak produksi atau mereka berpindah.  Menurut Kelly et.al (2015) Ada bukti bahwa kekeringan 2007-2010 berkontribusi terhadap konflik di Suriah. Itu  merupakan kekeringan terburuk dalam  yang , menyebabkan kegagalan panen yang meluas dan migrasi massal keluarga petani ke pusat kota

  1. Ekonomi

Menurut Worland (2015) Kenaikan suhu akibat perubahan iklim dapat secara radikal merusak ekonomi global dan memperlambat pertumbuhan dalam dekade mendatang jika tidak ada yang dilakukan untuk memperlambat laju pemanasan, menurut sebuah penelitian baru. Para peneliti di balik penelitian tersebut, yang diterbitkan di jurnal Nature, menemukan bahwa perubahan suhu akibat pemanasan global yang tidak tanggung-tanggung akan menyebabkan GDP global per kapita 23% lebih rendah pada tahun 2100 daripada tanpa pemanasan.
Perubahan Iklim mendorong timbulnya cuaca ekstrim ( menjadi peringkat pertama Global Risk 2017). Pada gilirannya menyebabkan bencana. Di Indonesia, Bencana alam dalam segala bentuknya – tsunami, gempa bumi, kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi – telah menjadi ancaman terbesar bagi keamanan nasional dan kesejahteraan masyarakat kita. Mereka telah menyebabkan lebih banyak kerusakan pada properti dan kehidupan warga daripada faktor lainnya (Presiden Indonesia H.E. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pidato pembukaan pada Konferensi Tingkat Menteri Asia Kelima tentang Pengurangan Resiko Bencana pada tanggal 23 Oktober 2012.) Dengan  Meningkatnya intensitas bencana akan merusak infrastruktur yang amat penting bagi laju pertumbuhan ekonomi, sehingga bencana juga menyebabkan manusia kehilangan harta benda dan menyebabkan mereka menjadi miskin.

  1. Kesehatan

Menyebarnya penyakit-penyakit tropis, sepertimalaria, ke daerah-daerah baru karena bertambahnya populasi serangga (nyamuk),  suhu yang ekstrim akan menyebabkan semakin lamanya firus bertahan hidup sehingga menyebarluaskan penyakit (Field, C. B., Barros, V. R., Mach, K., & Mastrandrea, M. :2014). Penyakit lain ialah radang otak  (    Tokarevich et al. (2011) , demam berdarah dengan sindrom ginjal (Hemorrhagic fever with renal syndrome, Zhang et.al, 2010)

3. SOLUSI

Kita dapat menjadi bagian dari solusi mengatasi  perubahan iklim, antara lain yg dapat dilakukan ialah

  1. Menjadi  bagian perubahan:

Pastikan wakil rakyat yang anda pilih andalah pro lingkungan hidup. Mereka yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan hidup

  1. Mulai dari rumah

Pastikan energy  listrik yg tidak  terpakai dalam posisi off ( lampu, rice cooker, TV, power bank, AC, computer, hair dryer). Lampu menggunakan LED. Mengurangi pemakain listrik yang tidak perlu, berarti menghemat biaya rumah tangga.

  1. Makan sehat
Baca juga:  Diskusi Pagi 29 Nopember 2016

Makanan  lokal, organic, bebas pestisida dianjurkan. Bila perlu menanam  tanaman bermanfaat dipekarangan (apotik hidup). Makan sayur dan buah, teratur.Makan  daging sperlunya. Seperti kita tahu,  Sapi ( yang diambil daging i dan susu, dan juga untuk keluaran yang tidak dapat dimakan seperti pupuk kandang dan ) adalah spesies hewan yang bertanggung jawab atas emisi paling banyak, mewakili sekitar 65% emisi sektor peternakan. Emisi itu menimbulkan gas rumah kaca. Salah satu penyebab utama dari pemanasan global adalah meningkatnya gas rumah kaca (greenhouse gas, disingkat GHG) di atmosfir bumi. GHG adalah gas-gas yang menyerap panas matahari (radiasi inframerah) ketika dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Di antara GHG itu adalah uap air, karbondioksida (CO2), nitro oksidan (N2O) dan metana

  1. Kurangi Sampah kita

Direktur Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut (PPKPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Heru Waluyo menyampaikan Indonesia hingga akhir tahun 2016 lalu tercatat sebagai kontributor sampah plastik di laut urutan kedua terbesar di dunia. Menurut  CNNIndonesia.com, setiap tahunnya Indonesia rata-rata menyumbang 3,2 juta ton sampah plastik. Indonesia hanya kalah dari China yang menghasilkan 8,8 juta ton sampah plastik per tahun. Sampah ini dilaut di konsumsi ikan dan biodata laut. Pada gilirannya kita mengkonsumsi ikan laut. Sampah di tempat pembuangan akhir , menghasilkan metana, gas rumah kaca . Membawa tas belanjaan sendiri saat shopping. Mengurangi pemakain plastik saat belanja. Kemasan yang dapat didaur ulang sangat penting. Memilih produk isi ulang

  1. Bepergian dengan kendaraan umum

Sedapat mungkin mengurangi kendaraan pribadi, memilih Transportasi umum. Untuk jarak dekat memakai  sepda dan jalan kaki sungguh menyehatkan. Less

  1. Terus menanam pohon

Komunitas masyarakat menanam bakau  (mangrove) ditepi pantai, menyelamatkan kehidupan nelayan dan hewan laut.  Tiap pohon memiliki kapasitas menyerap CO2. Contoh pohon trembesi sanggup menyerap 28 ton gas karbon dioksida setiap tahunnya.
Satu pohon dewasa menyerap sekitar 13 pon karbon dioksida setahun, sementara pohon yang tumbuh lebih muda dan aktif dapat menyerap hingga 26 pon CO2 per tahun-sekitar lima ton per hektar pohon.

  1. Penduduk yang berkualitas

Sampai bulan April 2017, penduduk dunia mencapai lebih dari 7.5 milyar jiwa. Indonesia: lebih dari 263 juta jiwa (http://www.worldometers.info/). Data dari Amerika dan Eropa menunjukkan peningkatan penduduk, meningkatkan GHS (gas rumah kaca) dengan perbanding an 1:1  Artinya naik 1 milyar penduduk suhu naik 1 derajat  (Ryerson, 2010:3).    Semuanya membutuhkan pangan, energy dan air. Kelangkaan ketiganya  menimbulkan konflik besar. Perubahan iklim mendorong migrasi ke daerah nyaman. seperti Yang terjadi di Syria, membanjiri  Eropa dan sekitarnya ( sampai bulan april 2017 tercatat : 5,029,562 pengungsi). Wilayah nyaman lainnya  negara yg berada di sekitar equator (seperti Indonesia, Brazil) kelak menjadi  pilihan migrasi. Pertanyaan hipotetik: bila konflik Korea Utara dan AmerikaSerikat   jadi  menggunakan kekuatan nuklir. Berarti ada cendawan nuklir di Jepang, Cina, Korea dan seluruh negara dalam wilayah jangkauan peluru kendali  antar benua  milik Korea Utara. Eskalasi konflik ini mendorong migrasi ke Cina  dan negara ASEAN

Tugas kita semua  menjadikan  Penduduk Indonesia berkualitas yang mampu menjaga kelangsungan energi, pangan dan air. Semoga

Renungan Penutup : Kebijakan kontra produktif presiden Trump
Tanggal 28 Maret 2017. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, didampingi eksekutif perusahaan batubaru  menandatangani surat  perintah eksekutif mengenai ‘kemerdekaan energi’ energy independence , yang menghilangkan peraturan perubahan iklim era Obama,  di kantor pusat Environmental Protection Agency (EPA) di Washington, AS,  Presiden baru tersebut mengumumkan serangkaian tindakan untuk meninjau peraturan yang membatasi produksi minyak, gas dan batu bara dan membatasi emisi karbon. Inti dari rencana Trump adalah upaya untuk memperlambat jalan Obama’s Clean Power Plan (CPP), yang membatasi emisi dari pembangkit listrik berbahan bakar batubara. Beberapa ahli memperingatkan hasil ekonomi dari pembongkaran CPP akan terbatas. Alasannya penciptaan lapangan kerja Amerika Serikat dari tahun 1850-1960  adalah kontributor CO2 terbesar didunia (http://www.wri.org/blog/2014/)

Baca juga:  COMPETENCY-FIT: IS IT SUFFICIENT?

Daftar istilah
Cuaca: keadaan udara (tentang temperatur, cahaya matahari kelembapan, kecepatan angin, dan sebagainya) pada satu tempat tertentu dengan jangka waktu terbatas (Kamus Besar  Bahasa Indonesia)
Iklim: keadaan hawa (suhu, kelembapan, awan, hujan, dan sinar matahari) pada suatu daerah dalam jangka waktu yang agak lama (30 tahun) di suatu daerah (Kamus Besar  Bahasa Indonesia)

Daftar pustaka

  1. Field, C. B., Barros, V. R., Mach, K., & Mastrandrea, M. (2014). Climate change 2014: impacts, adaptation, and vulnerability. Contribution of working group II to the fifth assessment report of the intergovernmental panel on climate change.
  2. Gleick, P. H. (2014). Water, drought, climate change, and conflict in Syria. Weather, Climate, and Society, 6(3), 331-340.
  3. Kelley, C. P., Mohtadi, S., Cane, M. A., Seager, R., & Kushnir, Y. (2015). Climate change in the Fertile Crescent and implications of the recent Syrian drought. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(11), 3241-3246.
  4. Lynas, M. (2008). Six degrees: Our future on a hotter planet. National Geographic Books.
  5. UNHCR (2016)akses tanggal 22 Mei 2016 dari  http://www.unhcr.org/news/latest/2016/11/581f52dc4/frequently-asked-questions-climate-change-disaster-displacement.html
  6. Ryerson, W. N. (2010). Population: The multiplier of everything else. The Post Carbon Reader: Managing the 21st Century’s Sustainability Crises, 153-75.
  7. Tokarevich, N. K., Tronin, A. A., Blinova, O. V., Buzinov, R. V., Boltenkov, V. P., Yurasova, E. D., & Nurse, J. (2011). The impact of climate change on the expansion of Ixodes persulcatus habitat and the incidence of tick-borne encephalitis in the north of European Russia. Global Health Action, 4(1), 8448.
  8. Worland,Justin (2015): Climate Change Could Wreck the Global Economy. Akses tanggal 22 Mei 2017 dari http://time.com/4082328/climate-change-economic-impact/
  9. Zhang, W. Y., Guo, W. D., Fang, L. Q., Li, C. P., Bi, P., Glass, G. E., … & Yan, L. (2010). Climate variability and hemorrhagic fever with renal syndrome transmission in Northeastern China. Environmental health perspectives, 915-920.

__________

Arief Budiarto, menyelesaikan S1 danS3 psikologi,UNPAD. S2 psikologi kerja,Univ Pierre Mendes France, Perancis. Pengampu disaster psychology.  Diberi amanah menjadi pembimbing disertasi, tesis, skripsi di beberapa Universitas.

__________