[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Selamat malam semuanya..

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Mudah-mudahan Kulgram malam ini tidak kalah gegap gempitanya dengan debat pilkada putaran kedua ?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Malam ini Kulgram kita dengan topik Coaching for High Performance yang akan disampaikan oleh Coach Lyra Puspa

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Sebelum memulai Kulgram, seperti biasa saya akan menuliskan kembali aturan Kulgram

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
1. Peserta Kulgram diminta untuk tidak menyela (dengan chat) baik komentar ataupun pertanyaan kecuali diminta oleh moderator.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
2. Pertanyaan Kulgram bisa dikirimkan ke link ini [https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/].

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Untuk lebih mengenal pemateri Kulgram malam ini, saya akan menceritakan sedikit mengenai latar belakang coach Lyra

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Coach Lyra Puspa adalah President & Founder Vanaya Coaching Institute sejak tahun 2013 sampai sekarang. Selain itu juga menjabat sebagai Chief Executive Officer Veltica Digital Academy. Tahun 2007 – 2011 Coach Lyra bergabung di Brilliant Expert Communication sebagai Chief Financial Officer. Sebelumnya Coach Lyra berkarya sebagai Director di Bizzcamp Intermed Indonesia dari tahun 2000 – 2010.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Latar belakang pendidikan coach Lyra sangat beragam. Salut dengat semangat belajar coach Lyra yang masih meneruskan pendidikan sampai sekarang. Coach Lyra menyelesaikan pendidikan S1 di IPB jurusan Agribusiness Management. Setelah itu Coach Lyra melanjutkan pendidikan di PPM, Manajemen Pemasaran. Kemudian di Harvard Business School dengan study Distruptive Strategy with Clayton Christensen, Business Administration and Management General. Saat ini Coach Lyra masih menempuh pendidikan di Massachusetts Institute of Technology – Sloan School of Management. Dan juga tengah menyelesaikan pendidikan Doctor of Philosophy (PhD) Applied Neuroscience in Psychology di Canterburry Christ Church University.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Oke, itulah sekilas mengenai Coach Lyra. Selanjutnya saya persilahkan Coach Lyra memulai Kulgram

[Forwarded from Lyra Puspa]
Malam Momod syantik jelita mbak Indri… terimakasih senantiasa setia dan sigap mengawal kulgram. Wah iya bareng debat pilkada ya, semoga tetap semangat semua…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Asslm wr wb.
Selamat malam teman-teman praktisi HR di Rumah MSDM ini. Kita malam ini santai saja ya, insya Allah yang ringan dan santai justru akan lebih terserap baik oleh sel-sel otak kita yang sudah bekerja produktif seharian ini.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Coaching saat ini memang semakin berkembang, sehingga jenisnya tergantung banyak tingkatan kedalaman, metode pendekatan, tujuan penggunaan, dan bidang implementasinya. Umumnya, coaching di dunia korporasi sangat erat dikaitkan dengan pengembangan SDM dalam rangka meningkatkan kinerja individu dan organisasi. Karena itu dalam kesempatan ini, sebagai awal pengantar pembahasan dasar tentang coaching, kita bahas dulu Coaching for High Performance alias Performance Coaching.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Supaya kulgram singkat ini lebih terarah, kita fokuskan struktur pada 5 pertanyaan dasar yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan coaching?
2. Mengapa coaching penting untuk mencapai high performance ?
3. Apa saja kompetensi vital bagi seorang coach ?
4. Sejauhmana setiap leader perlu menjadi coach ?
5. Bagaimana performance coaching diimplementasikan ?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kita langsung mulai dengan pembahasan pertama ya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Apa yang dimaksud dengan coaching?
Terdapat berbagai definisi resmi tentang coaching. Menurut International Coach Federation (ICF), “Coaching is partnering with clients in a thought-provoking and creative process that inspires them to maximize their personal and professional potential.”

Sementara itu Sir John Whitmore, salah satu pionir di bidang corporate coaching mendefinisikan, “Coaching is the process of empowering others by unlocking a person’s potential to maximize their own performance. It is helping them to learn instead of teaching them.”

[Forwarded from Lyra Puspa]
?ini mungkin 2 definisi standar yang paling sering kita dengar dan baca ya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kalau saya boleh menterjemahkan dalam bahasa yang lebih mudah, maka yang dilakukan oleh seorang Coach pada dasarnya adalah memfasilitasi Anda untuk menggali potensi, menemukan jati diri, membangkitkan kesadaran, dan memaksimalkan daya pikir sehingga mampu mengoptimalkan kinerja melalui pertanyaan yang bermakna.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Bagaimana mbak Indri, speednya masih on track ?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
masih Coach..

[Forwarded from Lyra Puspa]
Ok sip… dilanjut lagi kalau begitu

[Forwarded from Lyra Puspa]
Coaching adalah sebuah proses yang sangat client-centered. Jika diterjemahkan sebagai “pelatih”, maka Coach lebih pada melatih “How to Think” bukan “What to Think”. Client alias Coachee adalah orang yang paling paham tentang konten alias “What to Think”, namun Coach membantu memfasilitasi agar Client memiliki sumberdaya “How to Think” yang lebih kaya sehingga mampu lebih optimal dalam mendapatkan solusi bagi dirinya.
Secara mudahnya, yang dilakukan seorang Coach adalah bertanya. Coaching singkatnya adalah metode dan proses memprovokasi pikiran melalui pertanyaan. Namun tidak semua pertanyaan adalah pertanyaan coaching. Arah pertanyaan coaching bukan untuk menggali-gali akar masalah atau siapa yang salah di masa lalu, namun untuk mendapatkan solusi terbaik dan mencapai tujuan di masa depan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Salah-salah arah bertanya, rasanya bagi Client malah jadi bisa seperti diinterogasi atau disudutkan ?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Karena karakteristiknya yang solution-focused, future-oriented, dan client-centered inilah, coaching menjadi sebuah pendekatan yang berbeda dan bisa saling melengkapi dengan metode lain seperti training, mentoring, consulting, atau counselling. Mungkin untuk mudahnya bisa digambarkan dalam diagram berikut ini.

Perbedaan Coaching dan Metode Lain

[Forwarded from Lyra Puspa]
Perbedaan Coaching dan Metode Lain

[Forwarded from Lyra Puspa]
Silakan ditengok dulu diagramnya…. (sambil tarik nafas dan nyeruput kopi jahe)

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
istirahat dulu coach

[Forwarded from Lyra Puspa]
Siyaapp…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
siap lanjut?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Hayuk…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kita lanjutkan ke pembahasan kedua…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mengapa coaching penting untuk mencapai high performance ?
Riset dari berbagai lembaga di dunia menunjukkan bahwa coaching ternyata mampu meningkatkan job satisfaction dan engagement (IES), meningkatkan produktivitas kerja dan sikap positif karyawan (ICF), serta terbukti meningkatkan business result hingga 21% (Bersin by Delloitte).

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mengapa coaching begitu efektif dalam mendorong peningkatan kinerja ? Setidaknya terdapat 3 hal yang menjadi alasan utama.
1. Coaching menstimulasi munculnya kesadaran, ide, pemikiran, dan kreativitas dalam menemukan solusi kreatif dan inovatif.
2. Coaching menumbuhkan rasa percaya diri dan sikap positif karena karyawan merasa semakin berdaya dan teroptimalkan potensi dirinya.
3. Coaching memunculkan rasa memiliki (sense of ownership) yang tinggi terhadap ide, target kinerja, strategi, dan taktik yang muncul semua keluar dari dalam diri mereka sendiri. Rasa memiliki yang tinggi ini pada gilirannya memacu motivasi dan komitmen untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari, dan mewujudkan hasil terbaik dari peran yang mereka jalani.
Ketiga hal ini membuat karyawan dan keseluruhan organisasi tidak hanya menjadi lebih kreatif dan berkinerja tinggi, tetapi juga secara tidak langsung bertransformasi menjadi organisasi pembelajar (learning organization).

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sekarang coba bayangkan saja seandainya kita harus melakukan sesuatu karena diinstruksikan. Bagaimana rasanya ? Bandingkan dengan jika kita melakukan hal yang sama, tetapi ide itu muncul dari dalam diri kita. Apa bedanya ? Tentu yang kedua akan lebih membuat kita semangat dan penuh motivasi karena ada rasa memiliki dan tanggung jawab dari diri kita. Seperti itulah kira-kira bagaimana proses coaching bekerja…

Baca juga:  Strategi Remunerasi

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sekarang kita lanjut ke pembahasan ketiga, yaitu : Apa saja kompetensi vital bagi seorang coach ?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sebelum masuk ke detil kompetensi, saya mulai dari jenjang-jenjang kedalaman coaching terlebih dahulu. Berdasarkan riset dan pengalaman implementasi coaching beberapa tahun ini, terdapat 3 jenjang coaching berdasarkan tingkat kedalamannya, yaitu :
1) Performance Coaching, berorientasi pada pemunculan kreativitas solusi dan peningkatan kinerja
2) Developmental Coaching, berorientasi pada proses pemberdayaan dan peningkatkan kapasitas dalam periode tertentu sehingga terjadi perubahan behavior dan habit
3) Transformational Coaching, berorientasi penggalian diri yang mendalam, sehingga muncul transformasi yang bersifat jangka panjang karena penemuan meaning dan purpose

[Forwarded from Lyra Puspa]
Perbedaan ketiganya bukan berdasarkan jenis tools atau pendekatannya (misalnya : behavioral, positive psychology, ericksonian, ontology, dll sejenisnya, bukan itu), juga bukan bidang penerapannya (misalnya : business coaching, career coaching, executive coaching, dll); tetapi lebih pada fokus kedalaman pertanyaan coaching dan dampak yang dihasilkannya. Masing-masing memiliki jenjang sasaran dan dampak yang berbeda, sehingga membutuhkan tingkat kompetensi coaching yang berbeda pula. Gambaran singkatnya bisa disimak di gambar berikut ini.

Level of Coaching

[Forwarded from Lyra Puspa]
Level of Coaching

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sampai di sini dulu… gimana mbak Indri ? Rehat dulu kah?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
boleh..

[Forwarded from Lyra Puspa]
☕️

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
sambil saya mengingatkan bapak ibu yang ingin mengajukan pertanyaan bisa dikirimkan ke https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
bisa dimulai lagi Coach?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Siyaapp…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kita masih melanjutkan bahasan tentang kompetensi vital bagi seorang Coach ya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Pada tingkat kedalaman coaching yang paling dasar, coaching memunculkan kesadaran (awareness) sehingga muncul solusi atau ide yang tidak terpikirkan sebelumnya. Kebanyakan performance coaching fokus dalam tataran ini, yakni mendorong Client (baca : karyawan atau bawahan) untuk lebih optimal menemukan gagasan atau solusi untuk meningkatkan kinerjanya.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Yang membedakan setiap jenjang kedalaman coaching adalah tingkat kualitas kedalaman dalam mengimplementasikan kompetensi coaching. Semakin dalam kualitas coaching yang dilakukan, maka akan semakin dalam pula dampak coaching terhadap karyawan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Menurut ICF setidaknya ada 11 kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang coach, yang saya biasanya secara singkat sering merangkum menjadi 3 kompetensi vital :
1. Building co-creative partnership
2. Provoking new awareness
3. Facilitating learning and accountable action
Selengkapnya bisa dilihat di gambar berikut ini.

Kompetensi Vital Coach (courtesy by : ICF)

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kompetensi Vital Coach (courtesy by : ICF)

[Forwarded from Lyra Puspa]
Bagi rekan2 Rumah MSDM yang sudah menjadi certified coach tentu paham dan bahkan mungkin hafal 11 kompetensi coaching dari ICF ini… nah, kalau dirangkum sesungguhnya hanya 3 kompetensi vital. Dan yang paling vital adalah kompetensi ke-2 : Provoking New Awareness. Letak kedalaman tingkat awareness yang disasarlah yang membedakan seorang ACC (Associate Certified Coach), PCC (Professional Certified Coach), dan MCC (Master Certified Coach). Tapi dasar dari semuanya adalah : Co-Creative Partnership…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Nah, sampai di sini dulu pembahasan tentang kompetensi vital dalam coaching. Detilnya bisa nanti melalui pertanyaan ke mbak Momod… kita lanjut dulu ke pembahasan berikutnya ya.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sejauhmana setiap leader perlu menjadi coach ?
Berbagai riset menunjukkan bahwa coaching akan menjadi sangat efektif terhadap kinerja organisasi manakala coaching sudah menjelma menjadi sebuah culture. Artinya, coaching sudah menjadi bagian dari keseharian proses kepemimpinan, pengambilan keputusan, penyusunan rencana, dan pendampingan implementasi rencana kerja. Jadi setiap leader sesungguhnya perlu memiliki coaching skills sebagai bagian dari kelengkapan senjata untuk memimpin secara efektif, khususnya sebagai bentuk situational leadership yang sangat diperlukan di era VUCA dan disruptive seperti ini.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Dalam keseharian, peran leader untuk memberi arah, instruksi, kontrol, dan sebagai mentor sudah lebih banyak mendarah daging. Peran-peran tersebut sangat penting untuk dijalankan oleh setiap leader. Namun akan menjadi jauh lebih lengkap lagi jika leader mampu berperan sebagai coach pula. Dengan demikian karyawan akan lebih berdaya, lebih engage, lebih termotivasi dari dalam, sehingga akhirnya akan jauh lebih mandiri dan produktif.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Yang menjadi tantangan di masa-masa awal biasanya adalah mengubah kebiasaan leader dari telling menjadi asking. Biasa memberi tahu dan mengajari, menjadi mendengar dan bertanya. Biasa memiliki penilaian dan membuat keputusan, menjadi menahan judgement dan memberikan ruang lebih besar bagi bawahan untuk mengambil keputusan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Ini tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Coaching State, yakni kondisi mental yang obyektif, no judgment, empati, kesungguhan untuk betul-betul mendengar, menahan pendapat apalagi perintah, disiplin untuk bertanya secara open-ended, memahami karyawan sebagai manusia secara utuh, adalah sebagian dari kebiasaan mental yang perlu dilatih di tahap-tahap dasar mempelajari coaching.
Karena coaching adalah skills, maka kemampuan coaching itu bisa dipelajari.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mbak Indri… gimana so far mbak ? Pacing masih on track ?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Masih oke

[Forwarded from Lyra Puspa]
Langsung lanjut atau break dulu mbak ?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Langsung lanjut saja tidak apa2

[Forwarded from Lyra Puspa]
Sip sip… kita lanjut ke pembahasan terakhir ya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Bagaimana performance coaching diimplementasikan ?
Di banyak perusahaan, coaching sering dipersepsikan sebagai “keramas”. Mengapa ? Karena performance coaching diposisikan sebagai metode untuk mengejar-ngejar rencana aksi dan target kinerja, menggunakan pertanyaan yang interogatif, dan ditujukan bagi karyawan yang bermasalah. Akibatnya, banyak karyawan yang menjadi enggan untuk dicoaching. Padahal sesungguhnya banyak sekali cara untuk mengimplementasikan coaching sehingga berdampak positif bagi kinerja karyawan dan organisasi.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Setidaknya terdapat 3 cara untuk menjalankan coaching dalam rangka peningkatkan kinerja.
Pertama, diinternalisasikan dalam leadership style dalam peran para leader sehari-hari. Artinya, leader juga perlu berperan sebagai seorang Coach kepada tim yang dipimpinnya. Performance coaching seperti ini bisa dilakukan secara 1on1 ataupun dalam tim. Secara 1on1, seorang leader bisa melakukan coaching dalam sebuah sesi formal khusus, atau dilakukan sebagai bagian dari MBWA (Management by Walking Around) dengan menyelipkan coaching dalam percakapan bisnis sehari-hari. Jika dilakukan pada tim, maka implementasinya bisa dilakukan dalam meeting atau sesi brainstorming.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kedua, coaching dijadikan sebuah pendekatan dalam melakukan performance review. Manakala tiba waktunya untuk evaluasi kinerja karyawan, maka pendekatan evaluasi kinerja dengan menggunakan metode coaching diharapkan mampu menciptakan atmosfer yang positif. Dengan demikian karyawan lebih merasa terberdaya karena menyadari kekuatan dan apa saja yang masih bisa dia tingkatkan agar lebih baik lagi.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Ketiga, peningkatan kinerja dapat disentuh melalui developmental coaching untuk meningkatkan kapabilitas dari talenta potensial yang memang dipersiapkan untuk menjadi bintang di masa depan. Tentu proses coaching seperti ini membutuhkan jangka waktu tertentu, fokus pada penguatan atau perbaikan satu aspek vital tertentu yang secara kongkrit dapat dideteksi dalam perubahan perilaku dan kebiasaan sehari-hari.

Baca juga:  Talent Management: A “Strictly Business” Approach

[Forwarded from Lyra Puspa]
Langkah-langkah untuk menjalankan sebuah sesi performance coaching secara singkatnya adalah:
1. Mengevaluasi posisi kinerja saat ini vs sasaran kinerja yang diharapkan
2. Memetakan dan menyepakati gap atau fokus area yang ingin ditingkatkan
3. Memfasilitasi penyusunan rencana peningkatan kinerja
4. Mendampingi implementasi rencana dan memantau perkembangan kinerja

[Forwarded from Lyra Puspa]
Untuk menjalankan langkah-langkah tersebut, terdapat berbagai coaching model yang dapat diadopsi sesuai dengan kondisi di perusahaan Anda. Beberapa di antara coaching model yang ada misalnya seperti di bawah ini.

Coaching Models

[Forwarded from Lyra Puspa]
Coaching Models

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kalau kita perhatikan di antara keseluruhan coaching model, ada dua benang merah yang menyamakan, yakni : 1) Coach dan Client sama-sama terlebih dahulu menyepakati apa tujuan dari sesi coaching yang akan dijalankan, dan 2) Di dalam sesi coaching Coach menggali Client agar muncul berbagai alternatif pilihan solusi dan mengambil keputusan atas solusi tersebut.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mana coaching model yang akan digunakan dalam organisasi Anda, sangat tergantung pada pilihan yang terbaik bagi organisasi. Namun manapun coaching model yang akan diadopsi, yang terpenting bagi suksesnya implementasi coaching adalah munculnya terlebih dahulu kesadaran bersama bahwa coaching memang memainkan peran yang sangat kritikal dalam mendorong kinerja setiap individu, para leader, dan organisasi agar semakin optimal di masa depan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mungkin sampai di sini dulu… Demikian kulgram singkat tentang Coaching for Performance. Terimakasih sudah berkenan menyimak, semoga bermanfaat. Silakan jika ada pertanyaan. Saya serahkan kembali kepada mbak Momod Indria. Wasslm wr wb.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Penjelasan yang sangat mencerahkan mengenai coaching

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
sambil menunggu pertanyaan masuk, monggo untuk break sebentar Coach

[Forwarded from Lyra Puspa]
iya nih… sambil pijet2 jari ?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Boleh kita mulai pertanyaan pertama Coach?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Pertanyaan pertama dari pak Parlin Silalahi
TMS
Bagaimana cara kerja coaching antara coach dan coached. Apakah dengan memberikan masukan atau memberikan contoh (misalnya coach sebagai role model). Apakah antara coach dan coachee harus ada kesepakatan lebih dahulu tentang tujuan yang harus dicapai? Mengapa demikian?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silahkan coach Lyra

[Forwarded from Lyra Puspa]
Terimakasih pak Parlin, pertanyaannya menarik. Saya jawab yang terakhir dulu ya…
Sebagaimana sudah saya sampaikan, memang kesepakatan antara Coach dan Coachee tentang tujuan yang “ingin” dicapai bersama adalah satu hal yang menjadi dasar awal dari setiap sesi coaching. Jika coaching itu akan berjalan dalam kurun waktu tertentu, maka tujuan sepanjang kurun waktu tersebut juga perlu disepakati di awal, selain tujuan rinci setiap sesi coaching. Mengapa menyepakati tujuan ini penting ? Karena tujuan inilah yang akan menjadi kerangka ke mana Coach akan membantu memfasilitasi Coachee untuk mengarah. Ibaratnya, tujuan ini adalah KPI bersama dari sesi coaching bagi Coach maupun Coachee.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Saya tekankan kata “ingin” dan bukan “harus” karena memang tujuan dalam coaching berangkat dari kebutuhan dan keinginan Coachee. Jika menjadi sebuah keharusan, kadang kala Coachee menjadi merasa terpaksa datang di sesi coaching. Namun jika yang dimunculkan adalah keinginan, maka Coachee akan menjadi sangat coachable, betul-betul terlibat maksimal dalam setiap proses coaching yang akan dijalankan. Akibatnya, hasilnya pun akan lebih maksimal bagi Coachee.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Pertanyaan awal, tentang cara kerja Coach, memang Coaching itu metode utamanya adalah bertanya. Bahkan bisa dikatakan coaching adalah seni bertanya yang provokatif dan mencerahkan. Apakah seorang Coach harus menjadi role model ? Coach tidak harus ahli di bidangnya atau menjadi role model. Seorang juara sepak bola belum tentu menjadi pelatih sepak bola yang hebat, sementara pelatih sepak bola yang hebat belum tentu yang paling hebat sebagai pemain sepak bola. Kira-kira begitu contohnya. Kalau terkait dengan role model, maka peran yang tepat adalah sebagai Mentor. Memang Mentor itu memberikan contoh dan menjadi role model, ahli di bidangnya, dan karenanya seorang Mentor biasanya memberikan masukan, sharing pengalaman, dan menularkan wisdomnya.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Untuk jawaban dari pertanyaan pak Parlin apakah masih ada lagi yang perlu dijelaskan Coach Lyra?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Tentang memberi masukan, maka ini ada beberapa persepsi di dunia coaching. Saya sendiri karena memang kebetulan terlatih dengan Ericksonian, Positive Psychology, dan Neuroscience-Based Coaching, mencoba untuk disiplin tidak memberikan saran dan masukan terkait konten yang dibawa oleh Coachee. Apalagi sebagai coach, semakin dalam kemampuan coaching kita, maka kita akan bertanya di level struktur, bukan konten. Namun justru kemampuan seorang Coach untuk memberikan feedback sangat diperlukan. Feedback ini bukan masukan terhadap konten, tetapi sebuah refleksi atau notifikasi terhadap kondisi dan struktur berpikir Coachee. Mudah-mudahan cukup jelas yang saya maksud ya pak Parlin…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mungkin itu dulu mbak Indri, silakan kalau pak Parlin masih ada yang ditanyakan bisa disusulkan.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Coach, tadi dijelaskan bahwa ‘kata “ingin” dan bukan “harus” karena memang tujuan dalam coaching berangkat dari kebutuhan dan keinginan Coachee. Jika menjadi sebuah keharusan, kadang kala Coachee menjadi merasa terpaksa datang di sesi coaching.’ Seringkali karyawan itu kan dikirim untuk mengikuti program coaching dengan pihak eksternal. Nah bagaimana seorang coach bisa mengubah yang “harus” itu menjadi “ingin”?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Nah ini yang menarik mbak Indri… seninya seorang Coach itu ya di situ. Apalagi kadang kala Coachee itu datang ke sesi coaching karena dari perusahaan sudah ada “agenda” terlebih dahulu ?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Saya jawab dari pengalaman saja ya mbak. Biasanya sebagai External Coach di sesi awal saya akan terlebih dahulu building trust dan menggali persepsi Coachee terhadap agenda yang dititipkan oleh perusahaan. Memahami persepsi Coachee ini sangat penting, karena dari sana kita sebagai Coach bisa paham seberapa engage Coachee terhadap program coaching yang dia akan jalankan ini. Dalam Ericksonian Coaching kita mengenal 3 jenis Coachee, yakni : Visitor, Complainer, dan Customer. Yang paling mudah untuk dicoaching adalah Customer karena keinginan untuk coaching sudah muncul dari dalam, dia sudah tahu apa yang dia mau.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Yang termudah kedua adalah Complainer, karena at least dia sudah trust dan bersedia terbuka pada kita sebagai Coach. Mereka yang sudah menumpahkan curcol dan keluhannya pada kita ini sangat enak untuk dicoaching, karena mereka sudah tahu apa yang mereka tidak mau. Hanya saja, mereka belum tahu apa yang mereka mau. Maka tugas kita adalah membantu mereka untuk bergeser dari “Tahu apa yang saya tidak mau” (Away Thinking) menjadi “Tahu apa yang saya mau” (Toward Thinking). Ada teknik-teknik detilnya untuk itu…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Yang paling challenging memang adalah Coachee yang Visitor. Bisa jadi dia belum paham pentingnya coaching untuk dia, atau dia resisten terhadap proses coaching itu sendiri. Maka untuk menghadapi Coachee yang Visitor ini ya tadi seperti yang saya sampaikan : Building Trust dan Gali Persepsi dia terlebih dahulu. Dari jawaban yang muncul maka kita bisa mencari opening untuk menggeser dia minimal menjadi Complainer, lalu bertahap menjadi Customer.

Baca juga:  Operation Excellence

[Forwarded from Lyra Puspa]
Semoga cukup menjawab ya mbak Indri…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Iya Coach Lyra terima kasih

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Kita lanjut ya

[Forwarded from Lyra Puspa]
Silakan…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Pertanyaan kedua dari mbak Maria Devi R
Delta Group
Terima kasih bu lyra,, kulgram nya detail dan menarik sekali,, telah dijelaskan sebelumnya bahwa yang perlu dilakukan sebelum memulai coaching adalah mengevaluasi kinerja,,

Menurut ibu berapa lama idealnya waktu yang di butuhkan untuk mengevaluasi kinerja tersebut,,

Terima kasih banyak bu,,

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silahkan Coach Lyra

[Forwarded from Lyra Puspa]
Terimakasih mbak Maria… pertanyaannya jeli dan detil juga nih.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Evaluasi kinerja saat ini adalah salah satu sarana opening bagi sebuah sesi coaching, khususnya Performance Coaching. Tidak semua jenis coaching harus dibuka atau diawali dengan evaluasi kinerja mbak. Berapa lama waktunya untuk evaluasi ini tergantung kebutuhan dan tujuan coachingnya. Jika untuk mengembangkan kapasitas leadership misalnya, maka evaluasi bisa diambil dari 360 degree performance feedback. Sementara untuk meningkatkan kinerja atau pencapaian KPI, maka progress terhadap KPI per triwulan atau monthly (sesuai kebutuhan dan sistem di dalam organisasi) bisa digunakan sebagai data awal sebelum coaching dimulai.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Dengan semakin meningkatnya generasi millenials di angkatan kerja kita, sepertinya evaluasi kinerja ini tidak bisa lama-lama. Time horizon anak-anak millenials ini semakin pendek rentang waktunya. Maka jangka waktu evaluasi kinerja 1-3 bulan saja sudah cukup untuk mereka. Tadi sore saya baru saja mengcoaching salah satu leader millenials, yang ternyata time horizonnya hanya mampu melihat 1 bulan ke depan. Alhamdulillah pasca sesi coaching 30 menit dia sudah bisa stretching time horizon hingga mampu melihat dan membuat rencana kerja 1 tahun ke depan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Semoga cukup jelas ya mbak Maria… monggo mbak Momod syantikkk Indri silakan lanjut…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Nanti mbak Maria Devi kalo ada pertanyaan lanjutan, monggo disampaikan menyusul

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Mau break nglemesin jari dulu Coach?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Boleeehh….

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Sambil rehat, saya posting dulu pertanyaan ketiga

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Pertanyaan dari denny Jd
PT HCG
Seandainya saya memiliki usaha kuliner dengan 15 cabang dan saat ini hampir 300 karyawan. Dan saya merasa karyawan saya ini tidak perform dengan baik. Apakah coaching bisa menjadi solusi bagi kondisi usaha saya (seandainya) ini? Atau apa yang harus saya lakukan sebelum memutuskan bahwa coaching adalah salah satu solusi?

Terima kasih.

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Ini seandainya atau beneran ya?

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Silahkan dijawab Coach kalo sudah siap

[Forwarded from Lyra Puspa]
Siyaapp…. Wah, mas Denny terimakasih sudah rajin mengawal setiap pertanyaan yang masuk, dan menarik banget lho pertanyaannya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Mungkin di awal mas Denny perlu bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu : 1) Apa tepatnya yang membuat mas Denny bisa merasa karyawan tidak perform dengan baik ? 2) Karyawan yang mana yang betul-betul tidak perform dan mana yang sesungguhnya masih perform ? Karena treatmentnya boleh jadi akan berbeda, tidak sama untuk semua karyawan.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Menariknya, memang pendekatan coaching sangat bisa digunakan untuk mendorong terwujudnya High Performance Culture. Biasanya kalau seperti ini maka coaching dimulai justru dari Top Management dulu, karena perlu disepakati bersama High Performance Culture seperti apa yang ingin dicapai ? Tanpa clarity atas strategic direction, proses coachingnya juga akan kehilangan fokus dan dampaknya juga sulit untuk diukur. Jika arah dan parameter sudah jelas, maka coaching bisa digunakan untuk mendorong perubahan secara bertahap ke jenjang-jenjang di bawahnya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Apakah tidak perform maka pasti seluruhnya tuntas dengan coaching ? Nah itu tadi, coba dipilah-pilah dulu dengan menjawab dua pertanyaan di atas. Jika ternyata kurang performnya lebih karena kurangnya kompetensi karyawan di aspek tertentu, maka mungkin perlu diawali dengan training teknis yang terkait untuk melengkapi standar kompetensi karyawan. Ini masalah “Tidak Tahu” atau “Tidak Bisa” menjadi “Tahu” dan “Bisa”.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Namun jika ternyata kompetensi sudah memadai, lalu performa yang rendah lebih karena engagement yang rendah, kurangnya motivasi, tidak percaya diri, silo antar departemen, atau hal-hal non teknis lainnya, maka coaching bisa menjadi solusi yang pantas untuk dicoba.

[Forwarded from Lyra Puspa]
Karena coaching akan sangat pas ketika digunakan untuk memfasilitasi perubahan state dari “Merasa Tidak Bisa” menjadi “Yakin Bisa”, dari “Tidak Sadar” menjadi “Saddar”, dari “Tidak Mau” menjadi “Mau”, atau dari “Tidak Berdaya” menjadi “Berdaya”, dan sejenisnya…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Demikian mungkin jawaban untuk mas Denny, semoga cukup bisa menjawab ya…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
3 menit menuju jam 10. Jawaban2 yang mudah2an bisa membantu bapak dan ibu semuanya

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Sebelum saya tutup sesi Kulgram malam, Coach Lyra bisa memberikan kesimpulan penutup. Silahkan Coach

[Forwarded from Lyra Puspa]
Baik mbak Indri…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Kesimpulannya sangat sederhana. Coaching adalah sebuah metode yang terbukti efektif untuk mendorong kinerja individu, leader, maupun organisasi. Maka alangkah sayangnya jika kita sebagai leader belum embrace coaching skills menjadi bagian dari leadership style kita. Dengan coaching, maka bukan saja kinerja menjadi meningkat sehingga target perusahaan tercapai. Namun yang juga jauh lebih penting, karyawan kita menjadi jauh lebih berdaya, teroptimalkan segenap potensi yang sesungguhnya mereka miliki namun mungkin masih tersembunyi menanti untuk distimulasi. Maka bayangkan jika seluruh karyawan menjadi jauh lebih berdaya, visi dan karya besar apa yang bisa kita raih dan wujudkan bersama ?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Demikian rekan-rekan praktisi HR di Rumah MSDM ini yang hebat dan pembelajar sejati. Terimakasih sangat untuk mbak Indri, momod jelita yang setia menemani malam ini…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
karyawan kita menjadi jauh lebih berdaya, teroptimalkan segenap potensi yang sesungguhnya mereka miliki namun mungkin masih tersembunyi menanti untuk distimulasi. Ini tentunya yang menjadi harapan praktisi MSDM dan juga pelaku bisnis

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Kesimpulan yang menarik sekali

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Kalau ada pertanyaan mengenai coaching dari rekan2 Rumah MSDM bolehkah langsung japri ke coach Lyra?

[Forwarded from Lyra Puspa]
Semoga berkenan seluruh pembahasan dan diskusinya. Mohon maaf atas keterbatasan dan kekhilafan saya sepanjang kulgram malam ini… Jika ada yang ingin diskusi lebih lanjut, silakan japri aja langsung ya… Atau ngupi boleh juga haha…

[Forwarded from Lyra Puspa]
Wah bareng, boleh dunk mbak hehe

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
wah boleh ternyata

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Terima kasih banyak Coach Lyra atas materi malam ini. Saya yakin sangat bermanfaat bagi kita semua

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Mohon maaf apabila ada kesalahan, terima kasih dan selamat malam

[Forwarded from Lyra Puspa]
Malam mbak Indri dan rekan2 semua… Wasslm ww…

[Forwarded from Indria Ratna Hapsari]
Dengan ini Kulgram saya tutup ?