[Forwarded from denny Jd]
Baik, jam 20.00 WIB
Kita kan mulai Kulgram kita malam ini.
Dengan topik Implementasi Flexben Dalam Perspektif Total Reward yang akan dibawakan oleh Pak Alex Denni.
Peraturan selama kulgram adalah:
1. Peserta Kulgram dilarang meyela berupa chat selama Kulgram berlangsung.
2. Pertanyaan silakan diajukan menggunakan link pertanyaan yang sudah disediakan ini https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

Saya akan perkenalkan sedikit mengenai Pak Alex Denni
Pak Alex Denni, seorang Doktor lulusan IPB, program studi Human Capital, mengawali karirnya di Sucofindo pada tahun 1991.
9 tahun bergabung di Sucofindo, pak Alex Denni memegang berbagai jabatan seperti Business Development Manager, Quality Manager, Marketing Manager dan juga sebagai CEO di Kopsucofindo dan Board of Commissioner di Sucofindo Appraisal.
Di tahun 2000 sampai 2012, pak Alex Denni lebih banyak berkecimpung di dunia konsultasi, mulai dari bekerja di PMK Consulting, A+ Consulting, dan di Dunamis sebagai Executive Partner.
Tahun 2012, pak Alex Denni masuk ke industri perbankan dan bergabung di salah satu Bank terbesar di Indonesia yaitu Bank Mandiri sebagai Senior VP untuk Human Capital Policy and Strategy, serta Chief Learning Officer – Head of Corporate University.
Tahun 2014 sampai 2016 pak Alex Denni bekerja di DSN Group sebagai Chief Transformation Officer. Kemudian sejak bulan Juni 2016 dipercaya sebagai Chief Human Capital Officer di BNI sampai sekarang.
Itulah sekilas tentang pak Alex Denni.

Sebelum mulai menyampaikan pemaparan, saya ingin ucapkan banyak terima kasih untuk waktu yang sudah disediakan oleh Pak Alex sudah berkenan menyampaikan pemaparan malam ini dibalik kesibukan yang menumpuk.
Terima kasih banyak Pak Alex

Pak Alex saya persilakan menyampaikan materinya, ada waktu sampai jam 21.00 WIB, pak.
Silakan Pak??

[Forwarded from Alex Denni]
Terima kasih Pak Denny.
Selamat malam Bapak/Ibu penikmat Human Capital di manapun Anda berada.
Terima kasih atas tempat dan waktu yang sudah disediakan oleh Rumah MSDM buat saya berbagi cerita tentang salah satu aspek yang berkaitan dengan konsep total reward, yang selalu saja menjadi “hot topic sepanjang masa” buat kita yang berkecimpung di dunia human capital.

Seperti kita ketahui bersama, di era kompetisi bisnis yang semakin ketat saat ini, perusahaan membutuhkan talent-talent terbaik yang tidak hanya competent tetapi juga highly engaged dengan perusahaan. Dewasa ini, perebutan talent (talent war) tidak hanya terjadi di industri yang sama, melainkan juga sudah merambah ke lintas industri. Hal ini membuat talent mobility menjadi sangat dinamis dan berpotensi mengganggu perencanaan jangka panjang, khususnya bagi perusahaan-perusahaan yang limitation to grow-nya adalah Human Capital.

Karena itu dapat dipahami bahwa saat ini setiap perusahaan berlomba-lomba memperbaiki konsep Total Reward System mereka untuk meningkatkan kemampuan dalam menarik, memotivasi dan mempertahankan the most suitable talent yang dibutuhkan dalam mendukung strategi bisnis.

Tidak terkecuali di BNI, kami juga senantiasa berupaya melakukan perbaikan di semua aspek yang berkaitan dengan Human Capital Management, termasuk Total Reward System.

Total Reward System di BNI saat ini kami singkat dengan istilah “FoR MoRe Benefit WE GO”.
1. FoR yaitu Foundational Reward yang merupakan penghasilan tetap yang diterima pegawai berdasarkan jabatan dan Person Value-nya. Di tempat lain mungkin dikenal dengan istilah Base Pay atau Gaji Pokok
2. MoRe yaitu Motivational Reward yang merupakan reward yang bersifat variabel dan digunakan untuk memotivasi pegawai dalam berkinerja.
3. Benefit yaitu Benefit & Allowances untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pegawai.
4. WE yaitu Working Enviroment merupakan kondisi fisik, sosial, dan psikologis yang kami bangun untuk pegawai.
5. GO yaitu Growth Opportunity yang disediakan untuk pegawai agar dapat mengembangkan potensi dan karirnya.

[Forwarded from denny Jd]
Pak Alex, interupsi, apakah perlu istirahat sebentar?

[Forwarded from Alex Denni]
Masih segar Chief?
Saya lanjut sebentar yaa.. mumpung masih di jalanan juga?

[Forwarded from denny Jd]
Siap pak.??
Silakan

[Forwarded from Alex Denni]
Thanks?

Pembahasan dalam Kulgram kali ini akan saya fokuskan pada komponen no 3, yakni Benefit & Allowances.

Sebelumnya BNI menerapkan tradisional benefit yang masih menganut konsep “one size fits all”, yakni menyediakan benefit yang sama kepada seluruh pegawai. Setiap tahun BNI melakukan perbaikan pada benefit tersebut dan “merasa” telah memuaskan talent tanpa memperhatikan value yang dirasakan pegawai terhadap benefit yang telah diberikan.

Kemudian kami menyadari bahwa kebutuhan pegawai sebetulnya beragam sesuai dengan fase karirnya selama bekerja di suatu perusahaan. Dimulai dari pegawai pertama kali masuk ke perusahaan tersebut, kemudian dia menikah, mempunyai anak, membesarkan anak, anaknya meninggalkan rumah, sampai dengan pensiun.

Baca juga:  Membangun Unit Kerja MSDM (Multi Generasi di Tempat Kerja)

Sebagai contoh pembahasan, mari kita kelompokkan pegawai ke dalam tiga kategori yaitu Fresher (baru belum menikah), Middle (menikah dan membesarkan anak), dan Senior (mendekati usia pensiun). Tentunya prioritas kebutuhan Fresher, Middle, dan Senior akan berbeda. Sebagai Fresher mungkin pegawai ini akan cenderung memprioritaskan life style, travelling atau flexible time. Sedangkan pegawai pada kelompok Middle tentunya akan lebih memprioritaskan kebutuhan fundamental keluarganya seperti kesehatan keluarga, rumah, mobil, dan pendidikan anak. Lain lagi dengan pegawai pada kelompok Senior yang akan lebih memprioritaskan kestabilan atau kesehatan pada masa pensiun.

Apa jadinya kalau kita menjual “manfaat pensiun” kepada Fresher? Mereka akan berkata di dalam hati “siapa juga yang berpikir untuk sampai pensiun di perusahaan ini?”.

Oleh karena itu traditional benefit dengan konsep “one size fits all” tadi tidak lagi relevan. Apalagi kalau dikaitkan dengan jumlah tenaga kerja akan semakin didominasi oleh Generasi Milenia yang sering disebut “GenY” yang lebih memprioritaskan personilized, contribution, and flexible life style.

Karena itu pengelola Human Capital harus sensitif terhadap change of trend tersebut agar mampu memenangkan dan mendominasi liga dalam talent war saat ini.

Kami di BNI juga berusaha menangkap peluang dalam change of trend tersebut melalui salah satu inovasi dengan mengimplementasikan Program Flexible Benefit (FLEXBen) pada akhir tahun 2016 yang lalu.

[Forwarded from denny Jd]
Interupsi, saya hanya menyampaikan link pertanyaan saja. Silakan bagi yang sudah punya pertanyaan, bisa menggunakan link ini https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/
Pak Alex, silakan dilanjutkan. ??

[Forwarded from Alex Denni]

Skema FLEXBen memberikan keleluasaan kepada pegawai untuk melakukan penukaran benefit ke dalam bucket point yang dapat ditukarkan dengan benefit-benefit lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing pegawai. Pada awal program pegawai diberikan bucket point, untuk selanjutnya pegawai sendiri yang akan memilih jenis benefit sesuai dengan kebutuhannya. Namun demikian, perusahaan harus tetap menjaga benefit yang bersifat core atau mandatory sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Secara umum Program Flexible Benefit bukan merupakan additional cost, karena konsep pada program ini adalah mengoptimalisasi budget yang telah ada sekaligus meningkatkan value yang dirasakan oleh pegawai terhadap benefit yang diberikan.

Pak Moderator,

boleh break sebentar yaa.. saya masuk gedung dulu?

[Forwarded from denny Jd]
Silakan Pak Alex, kita break sebentar.

Menariknya Kulgram malam ini adalah, saya jadi buka rahasia, yaitu, Pak Alex sharing materinya dari mobil dalam perjalan pulang dari kantor. ??

Di Kulgram dengan pemateri yang lain juga banyak hal-hal menarik yang nanti suatu saat akan kami ceriterakan, tentu saja dengan ijin yang bersangkutan.

Saya langsung mencatat kalimat ini dari pemaparan pak Alex tadi:

“Secara umum Program Flexible Benefit bukan merupakan additional cost, karena konsep pada program ini adalah mengoptimalisasi budget yang telah ada sekaligus meningkatkan value yang dirasakan oleh pegawai terhadap benefit yang diberikan.”

Kemudian agak scroll ke atas, ada pembagian kelompok pegawai:
– Fresher
– Middle
– Senior
dengan definisi yang sudah dipaparkan diatas.

Saya mengulangi link pertanyaan:

Pertanyaan Kulgram

Silakan, untuk yang sudah punya pertanyaan, bisa mengirmkan pertanyaannya melalui link tersebut

Sambil menunggu Pak Alex, Bapak Ibu dan rekan bisa membaca lagi pemaparan di atas, atau mengirimkan pertanyaan.

Baik, Pak Alex, silakan dilanjutkan pemaparannya pak. Waktu masih ada 11 menit. ??

[Forwarded from Alex Denni]
Boleh lanjut yaa..

[Forwarded from denny Jd]
Silakan pak

[Forwarded from Alex Denni]
Pada tahap awal BNI telah mengimplementasikan skema fleksibel benefit pada beberapa benefit yaitu asuransi kesehatan, Car Ownership Program (COP), hari cuti, pulsa telepon, dan tunjangan lainnya. Dengan penukaran benefit tersebut ke dalam bucket point, pegawai dapat membelanjakan point-nya untuk keperluan healthy, travelling, dan education pegawai dan keluarga seperti gym membership, travelling tickets, education fee atau asuransi untuk orang tua pegawai.

Ketersedianya sarana user friendly application, data base yang solid, dan komunikasi merupakan kunci krusial dalam penentuan keberhasilan implementasi FLEXBen. Oleh sebab itu BNI membangun aplikasi FLEXBen secara in house dan melakukan komunikasi internal untuk membangun awareness pegawai terhadap program FLEXBen. Komunikasi dilakukan di berbagai media diantaranya Town Hall Meeting, video pesan dari manajemen, video viral dan flyer, serta pemilihan agen FLEXBen yang diwakili oleh GenY yang melambangkan generasi digital dan fleksibel.

Baca juga:  Assessment Center, Metode Handal untuk Memilih Kandidat Kompeten.

Keikutsertaan pegawai dalam pemilihan benefit (enrollment) merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan Program Flexible Benefit. Benchmark pada general industry yang kami lakukan menunjukkan bahwa tingkat enrollment perusahaan yang baru pertama kali mengimplementasikan Program Flexible Benefit rata-rata berkisar pada angka 10%.

Dengan dukungan sarana dan komunikasi yang tepat, pada tahap awal BNI mampu mencetak rekor tingkat enrollment pegawai sebesar 54%. Hal ini mencerminkan antusias pegawai yang tinggi dan meningkatnya value pegawai terhadap benefit yang telah diberikan oleh perusahaan, sehingga dapat dikatakan Program Flexible Benefit merupakan salah satu booster tools dalam upaya meningkatkan produktivitas dan engagement pegawai.

Masih banyak yang perlu kami perbaiki, tetapi paling tidak langkah2 kecil yang dilakukan oleh tim human capital BNI mulai mengembalikan BNI sebagai salah satu bank terbesar yang patut dijadikan benchmark, seperti masa jayanya dulu.

Terima kasih atas waktu dan kesempatannya, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Selamat malam

[Forwarded from denny Jd]
Terima kasih Pak Alex. Silakan istirahat sebentar, sambil menunggu beberapa pertanyaan yang masuk.

Saya mencatat kalimat ini menjadi penekanan bagi saya di penjelasan Pak Alex malam ini:

“Program Flexible Benefit merupakan salah satu booster tools dalam upaya meningkatkan produktivitas dan engagement pegawai.”

Sekali lagi bagi bapak ibu dan rekan yang ingin bertanya dapat menggunakan link ini:

Pertanyaan Kulgram

Pak Alex apakah sudah siap untuk kita masuk ke sesi q/a?

[Forwarded from Alex Denni]
Siaapp

[Forwarded from denny Jd]
Baik pak, pertanyaan pertama dari Indria Hapsari (Tetra Pak)

Selamat malam pak Alex Denni.
Di materi pak Alex menyatakan bahwa Program Flexible Benefit merupakan salah satu booster tools dalam upaya meningkatkan produktivitas dan engagement pegawai. Yang saya tanyakan adalah apakah dengan adanya program ini sudah terlihat korelasi positif antara Program FlexBen dengan tingkat produktifitas dan turnover rate karyawan sejak program FlexBen diluncurkan? Terima kasih

[Forwarded from denny Jd]
Silakan Pak ??

[Forwarded from Alex Denni]
Selamat malam Mbak Indria Hapsari.
Mengingat FlexBen baru kami luncurkan akhir tahun lalu, kami belum bisa menyimpulkan kaitannya dengan produktivitas dan engagement pegawai. Meskipun demikian kami menerima banyak sekali testimoni dari pegawai yang menyatakan bahwa mereka sangat senang dengan program ini. Bahkan dalam beberapa kesempatan kami menemukan karyawan secara antusias mempromosikan (word of mouth) kepada pihak luar, nasabah atau customer kami perihal inisiatif2 Human Capital di BNI, termasuk inisiatif FlexBen ini.

Sehingga akhir2 ini banyak sekali perusahaan yang datang untuk melakukan benchmarking ke BNI.

[Forwarded from denny Jd]
Wow, kalau ada rekan-rekan disini yang ingin benchmark apakah diijinkan juga pak? Dan bagaimana prosedurnya? ??

[Forwarded from Alex Denni]
Dengan senang hati Pak Denny. Silahkan tujukan ke Divisi Modal Manusia BNI untuk dijadwalkan. ?

[Forwarded from denny Jd]
Siap. Terima kasih. ??

[Forwarded from denny Jd]
Pertanyaan kedua ya pak?

Pertanyaan ini dari R Satrio Adi pamungkas S. Psi (PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk)

Selamat malam pak Alex, Bagaimana karyawan menambah bucket point, apakah melalui KPI atau period time appraisal? Kemudian siapa yang memberikan penilaian tersebut?
Challenge apa yang dihadapi pak alex saat penerapan ini?
Maaf banyak sekali pertanyaannya, saya interest dengan pendekatan benefit yang luar biasa dari team bapak
Terima kasih
Silakan Pak Alex??

[Forwarded from Alex Denni]
Selamat malam Pak R Satrio.
Karyawan menambah bucket point dengan menukarkan (menurunkan) benefit yg dapat di flexiblekan. Misalnya jatah cutinya 18 hari. Yang kami tetapkan sebagai mandatory untuk cuti adalah 12 hari. Karyawan bisa menukarkan 2 hari cutinya dengan Flexpoin untuk ditambahkan ke dalam Bucket pointnya.
Bucket point bukan berdasarkan KPI atau performance appraisal. Dalam filosofi total reward kami, performance appraisal hanya akan berdampak langsung pada motivational reward seperti bonus atau insentif.

Challenge yang kami hadapi adalah sama seperti halnya kita memperbaiki total reward secara umum. Pada saat ekspektasi karyawan kita penuhi, akan muncul ekspektasi baru. Misalnya pada saat karyawan diberikan mobil, muncul harapan untuk dibantu uang bensin. Pada saat bensin diberikan muncul ekspektasi untuk uang tol dan parkir agar bisa diganti. Diberikan penggantian uang tol dan parkir, muncul harapan untuk disediakan driver dst.
Karena itu saya selalu menekankan kepada teman2 di human capital pentingnya “calling” dalam melayani karyawan. Jika anda tidak memiliki “calling” itu, sebaiknya tidak bekerja di bidang human capital.

Baca juga:  Human Capital Strategy

[Forwarded from denny Jd]
Pak Alex, boleh dijelaskan “calling” ini pak? Saya penasaran.??

[Forwarded from Alex Denni]
“Calling” di sini artinya panggilan untuk melayani karyawan Pak. Jika tidak punya itu, maka anda akan berpikir dan merasa “kok karyawan ini nggak ada puasnya ya? Dikasih ini minta itu, dikasih itu minta ini dst”. Anda sendiri akan tersiksa dan hasil pekerjaan anda akan tidak optimal.

[Forwarded from denny Jd]
OK pak. Clear. Terima kasih, pak Alex. ??

[Forwarded from denny Jd]
Satu pertanyaan lagi, bersedia pak?

[Forwarded from Alex Denni]
Siaapp

[Forwarded from denny Jd]
Pertanyaan ini dari Denny Turner (Mercer)

Selamat malam bro Alex Denni.
Mohon insight nya dari pengalaman BNI implementasi Flex Ben, apa yang menjadi *absolute must* dan apa yang menjadi *absolute must not* dalam implementasi awal?
Have a blessed night.

Silakan Pak. ??

[Forwarded from Alex Denni]
Menurut pengalaman saya, absolute must dalam hal implementasi flexben adalah (1) system yang sound, termasuk dukungan technology dan (2) komunikasi yang baik kepada karyawan.

Sedangkan absolute must not adalah
adanya pilihan untuk menghilangkan core atau mandatory benefit.

[Forwarded from denny Jd]
Baik Pak Alex.

Saya tadinya mau ada pertanyaan. Tapi kok sudah ditanyakan semua sama temen-temen.?
Pak, sebelum kita tutup sesi Kulgramnya, mohon kalimat “pamungkas” pak. Pesan atau kesimpulan. ??

[Forwarded from Alex Denni]
Bapak/Ibu penikmat human capital. Mengelola karyawan tidak beda sebetulnya dengan mengelola customer. Dalam hal ini berlaku golden rules yang sama “always treat others the way you want to be treated”. Feel the needs then develop product or service to fulfill the needs.
Terima kasih, semoga bermanfaat.
Selamat malam

[Forwarded from denny Jd]
Wow, pesannya pamungkas banget.
Pak Alex, sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih. Jika diijinkan mewakili teman-teman yang ada di Rumah MSDM.
Terima kasih sudah disempatkan sharing ini.

[Forwarded from Alex Denni]
Sama2 Chief?

[Forwarded from denny Jd]
Sedikit rangkuman saya, bukan bermaksud membuat pemaparan Pak Alex lebih singkat, hanya catatan saya, yang mungkin berguna juga bagi yang lain:

– Secara umum Program Flexible Benefit bukan merupakan additional cost, karena konsep pada program ini adalah mengoptimalisasi budget yang telah ada sekaligus meningkatkan value yang dirasakan oleh pegawai terhadap benefit yang diberikan.

– Ketersedianya sarana user friendly application, data base yang solid, dan komunikasi merupakan kunci krusial dalam penentuan keberhasilan implementasi FLEXBen.

– BNI membangun aplikasi FLEXBen secara in house dan melakukan komunikasi internal untuk membangun awareness pegawai terhadap program FLEXBen.

– Komunikasi dilakukan di berbagai media diantaranya Town Hall Meeting, video pesan dari manajemen, video viral dan flyer, serta pemilihan agen FLEXBen yang diwakili oleh GenY yang melambangkan generasi digital dan fleksibel.

– Bucket point bukan berdasarkan KPI atau performance appraisal.

– Pentingnya “calling” dalam melayani karyawan. Jika anda tidak memiliki “calling” itu, sebaiknya tidak bekerja di bidang human capital.

– “always treat others the way you want to be treated”

??
Dengan ini sesi Kulgram malam ini saya tutup. Sekali lagi, terima kasih Pak Alex Denni.
Bapak Ibu dan rekan sekalian yang ingin mengucapkan apresiasinya kepada pemateri, silakan.
??

[09.03.17 08:16]
[Forwarded from Didi Erdiwal]
Kang Deny, punten tadi malam ga bisa ikutan kuliah… menarik apa yang disampaikan oleh kang mas Alex.. memang akan lebih baik bagi para talent dan perusahaan bila banyak perusahaan bisa menerapkan flexben seperti di BNI.. kalau boleh nitip pertanyaan..
1. Apakah program flexben tersebut juga totally flexible dari sisi waktu, meski saya duga ada jangka waktunya. 2. Bila totally flexible, pasti sangat menarik untuk bisa “dijual” buat kemajuan perusahaan2 local di Indonesia dan bagaimana menyiasati perubahan2 benefit yang diajukan pegawai BNI. Nuhun ach kang mas Denny. ??

[Forwarded from Alex Denni]
Dalam implementasi Flexben ada periode enrollment yang diberikan kepada karyawan untuk menyusun skema benefit yang mereka pilih sebagai sumber poin. Setelah lewat masa enrollment, sistem akan dilock dan siap untuk implementasi. Hal ini bertujuan untuk mendidik karyawan agar terbiasa dengan perencanaan. Jadi bukan reaktif atas stimulus yang bisa mempengaruhi keputusan mereka. Meskipun demikian benefit yang bisa ditukarkan dengan poin tersebut sangat luas cakupannya dan sangat fleksibel dari segi waktu di sepanjang tahun berjalan.