Rumah MSDM Arsip:
Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Selamat malam Bapak dan Ibu semuanya
Malam ini kita akan mengikuti Kulgram Etika Profesional MSDM yang akan diberikan oleh bu Nani Koespriani
Sebelumnya saya akan menginformasikan aturan Kulgram
#Rules Kulgram:
1. Peserta Kulgram diminta untuk tidak menyela baik komentar ataupun pertanyaan kecuai diminta oleh moderator.
2. Pertanyaan Kulgram bisa dikirimkan ke link ini [https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/].

Rumah MSDM
Pertanyaan Kulgram
Visit the post for more.

Saya akan menceritakan sedikit mengenai profil Bu Nani Koespriani
Bu Nani Koespriani adalah seorang praktisi MSDM yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun.
Latar belakang pendidikan beliau adalah Master of Business Administration (Corporate Finance) 1986
Daniel School of Business & Public Management, University of Denver, Colorado, USA. Dan sekarang masih berusaha menambah dan mengembangkan pengetahuan dengan menimba ilmu di MM – CSR , Trisakti University, Jakarta.
Bu Nani pernah bekerja sebagai HR Director di perusahaan nasional Indonesia . Dan pernah menjabat sebagai Corporate Services Division Head, Senior Management Consultant dan juga dosen di PPM Management Institute. Juga sebagai HR Advisor untuk beberapa perusahaan dan institusi.
Untuk kegiatan saat ini beliau menjabat sebagai Komisaris di Agung Toyota (Main Dealer Toyota), serta aktif di berbagai organisasi seperti PMSM sebagai salah satu Dewan Pakar. Bendahara Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), pembina Yayasan Greeneration Indonesia, pembina Yayasan Kampung Keluarga.
Di sela-sela kesibukan bu Nani yang padat, beliau masih berusaha membagi waktu untuk mempersiapkan Kulgram malam ini dalam rangka berbagi pengetahuan dan pengalaman. Semoga kita semua bisa mengambil manfaat dari Kulgram malam ini
Oke..saya akan berikan waktu kepada bu Nani untuk mulai memberikan Kulgram
Silahkan bu Nani..

Forwarded message: Nani Koespriani
Baik mbak
Selamat malam bapak dan ibu….
Senang bisa sharing di sini.
Terima kasih untuk kesempatan berbagi dengan topic yang jarang kita bicarakan , terutama di dunia MSDM, yaitu tentang Etika Profesi MSDM.
Agak abstrak ya topiknya! Saya sendiri bukan pakar etika, tapi dari 35 tahun pengalaman saya bekerja, baik sebagai konsultan maupun praktisi, ternyata etika profesi merupakan salah satu kunci sukses yang penting.
Jadi saya akan coba sharing bukan dari segi konsep dan teori, tetapi lebih pada implementasinya. Bicara tentang etika itu bukan soal benar dan salah saja, tetapi juga soal diterima atau tidak oleh lingkungan kita.

Saya akan mulai Kulgram malam ini dengan sedikit membahas mengenai pemahaman Profesi/profesional MSDM, kemudian diikuti dengan beberapa sikap yang berkaitan dengan Etika Profesi yaitu :

  1. Kinerja tertinggi
  2. Pengembangan Keahlian
  3. Kepatuhan pada peraturan dan undang2 serta Kode Etik Profesi
  4. Penggunaan informasi dan kerahasiaan
  5. Sikap professional lain

Pada saat saya sedang berpikir untuk menggunakan referensi untuk pembahasan, ternyata sebagian besar adalah referensi asing. Tapi saat terakhir, saya menemukan buku “guru” kita di antara koleksi buku saya, dan dalam banyak hal sejalan dengan pemahaman dan pengalaman saya. Jadi saya akan menggunakan beberapa bagian dari buku ini juga sebagai bahan bahasan.

imagebukurefbunani
Kita mulai membahas pemahaman kata “Profesional” ya. Dalam banyak referensi , kata Profesi/Profesional hampir selalu dikaitkan dengan pekerjaan yg memerlukan keahlian yang diperoleh dengan pendidikan tertentu, diikat dengan kode etik atau Code of Conduct organisasi tertentu dan tentunya memperoleh imbalan atas keahlian tersebut. Tetapi pak Ruky dalam bukunya mengemukakan bahwa Profesional itu lebih banyak ditentukan oleh sikap, perilaku dan integritasnya. Saya lebih condong untuk membahas hal ini. Jadi yang akan kita bahas adalah bagaimana seorang profesional di bidang MSDM perlu bersikap dan berperilaku agar ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Mari kita mulai bahas sikap yang mendukung profesi MSDM menjadi profesional
1. Berusaha menghasilkan kinerja yang tertinggi.
Saya sering menemukan praktisi MSDM yang lebih senang mengerjakan pekerjaan rutin dan bersikap menunggu masalah timbul atau permintaan dari unit kerja lain. Akibatnya Departemen MSDM sering dianggap lambat dan tidak dapat mengikuti ritme atau tuntutan bisnis.
Sikap proaktif akan menghasilkan kinerja yang tinggi.
Di tempat saya bekerja saat ini, Dept MSDM harus mengikuti perkembangan Market Share dan Produktivitas Salesman setiap minggu sehingga bila ada perubahan yang cenderung merugikan dapat segera mengambil langkah antisipatif. Bagi yang berprofesi sebagai konsultan, memberikan saran terbaik untuk kepentingan klien adalah sikap professional, bukan hanya mengikuti keinginan klien yang belum tentu bermanfaat bagi perusahaan.
Intinya jangan puas dengan hasil kerja yang pas-pasan.

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Bu Nani, mau rehat sebentar?

Forwarded message: Nani Koespriani
Hmmm sy teruskan sebentar lagi ya mbak

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Oke, siap bu

Forwarded message: Nani Koespriani
2. Terus menerus mengembangkan  keahlian.
Kinerja yang tinggi hanya dapat dicapai kalau kita menguasai bidang keahlian kita, dalam hal ini MSDM. Keinginan untuk terus menerus belajar untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang MSDM merupakan sikap yang mutlak harus dimiliki. Sikap untuk terus menerus belajar dan tidak cepat puas merupakan sikap professional. Kita perlu mencontoh para senior dalam group ini yang terus menerus meningkatkan dan memutahirkan pengetahuannya, walaupun kita tahu bahwa mereka sudah sangat sangat ahli.
Keahlian yang perlu dimiliki bukan hanya yang menyangkut MSDM, tetapi juga PROSES BISNIS. Saya pernah menyiapkan SDM untuk sebuah stasiun TV baru, dua minggu penuh saya “kursus” mengenai proses bisnis broadcasting pada seorang pakar broadcasting senior, sampai saya memahami betul kebutuhan dan karakteristik SDM yang sesuai untuk bisnis broadcasting.  Seringkali kita menganggap pemahaman proses bisnis bukan area kita, tapi sebenarnya pemahaman ini sangat penting.

Nah, jeda sebentar ya, pegel

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Monggo bu..
Bagi bapak dan ibu yang ingin mengajukan pertanyaan mengenai Etika Profesional dapat mengirimkan pertanyaan ke https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

Baca juga:  Membangun Kredibilitas MSDM di Lingkungan Perusahaan Multinasional

Rumah MSDM
Pertanyaan Kulgram
Visit the post for more.

Bu Nani, kalau pegel nya sudah ilang, silahkan dilanjutkan

Forwarded message: Nani Koespriani
Rumah MSDM ini adalah salah satu contoh bentuk pengembangan keahlian yang patut dipuji, baik sebagai media peningkatan pengetahuan maupun untuk pemutahiran pengetahuan.
Kebetulan 10 tahun terakhir saya terlibat sebagai pengurus PMSM. Mengikuti kegiatan-kegiatan PMSM seperti HR Bootcamp, HR Meet & Talk dll merupakan bentuk pengembangan keahlian yang dapat memutahirkan pengetahuan kita. Pengembangan keahlian tidak selalu harus berbentuk pendidikan formal. Saat ini banyak sekali sertifikasi yang dapat diikuti, sehingga professional MSDM dapat memilih bidang yang diminati dan ingin dikembangkan. Kalau keahliannya tinggi, maka professional MSDM akan lebih percaya diri untuk berhadapan dengan bidang lain.

Selanjutnya
3. Kepatuhan pada peraturan dan undang2, termasuk Kode Etik Profesi.
Profesional MSDM itu yang nomor satu harus patuh pada peraturan lho, karena sebagian besar peraturan di perusahaan dibuat oleh MSDM. Kita perlu introspeksi, apakah kita sudah mematuhi semua peraturan yang ada di tempat kita bekerja? Bekerja di bidang MSDM seringkali jadi panutan (atau sorotan?) di perusahaan, terutama dalam hal kepatuhan pada peraturan. Jadi seperti Role Model dalam mematuhi peraturan perusahaan. Itu sebabnya kepatuhan terhadap peraturan menjadi salah satu sikap kunci bagi profesi MSDM.
Kode Etik atau Code Of Conduct itu sering diartikan sebagai Pedoman Tingkah Laku. Artinya, ini yang membatasi apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan oleh professional MSDM.
Nah bagian ini yang seru. Pasti ada pertanyaan : apakah ada Kode Etik untuk Profesi MSDM?
Sejak 3 tahun lalu PMSM sudah berupaya untuk menyusun Kode Etik Profesi MSDM, walaupun nampaknya belum berlaku seperti kode etik profesi lain seperti lawyer, dokter dll. Mungkin ada baiknya mengintip Kode Etik Profesional MSDM yang ada di website PMSM : www.pmsm-inconesia.com . Banyak yang harus disempurnakan, tapi isinya kira2 seperti yang kita diskusikan malam ini.
Ini pun sdh disusun dengan perjalanan panjang dan sudah ditandatangani oleh ratusan profesional MSDM.

4. Penggunaan informasi dan kerahasiaan.
Profesional MSDM biasanya banyak memiliki informasi yang cukup sensitif, mulai data karyawan, gaji  dll. Tetapi di lain pihak MSDM juga harus transparan agar karyawan memahami betul semua kebijakan perusahaan. Menjaga kerahasiaan dan menggunakan informasi secara professional merupakan sikap yang agak tricky dan biasanya tidak diajarkan secara jelas di sekolah2 MSDM.
Patokan saya sederhana saja : pada dasarnya setiap karyawan perlu tahu hak dan kewajibannya, tetapi dia tidak perlu tahu hak dan kewajiban karyawan lain. Jadi transparan itu untuk hak dan kewajibannya sendiri. Ini yang kadang kala disalahartikan dengan merahasiakan yang tidak perlu, sebaliknya  mengungkapkan hal-hal yang harus dirahasiakan. Intinya menghormati hak pribadi karyawan.
Informasi yang kita miliki juga tidak bisa kita gunakan untuk kepentingan pribadi.

Nah bagaimana dengan etika di Socmed?
Socmed itu punya dua sisi mata uang, bisa sangat bermanfaat kalau digunakan dengan baik, tapi bisa jadi boomerang kalau salah menggunakan. Sebaiknya dipikirkan betul konsekuensinya bagi organisasi dan karyawan sebelum mem posting nya.
Posting hal2 baik atau pencapaian suatu team bisa menjadi appresiasi bagi karyawan.
Ada banyak Profesional SDM yang rajin memposting pencapaian karyawan maupun inisiatif MSDM di socmed, saya rasa ini baik untuk employer branding, sepanjang karyawan tidak terganggu.

Terakhir adalah beberapa sikap profesional lain yang juga penting :
Di awal sudah diungkapkan bahwa etika profesi itu lebih terkait pada sikap, perilaku dan integritas. Banyak interpretasi tentang integritas, tapi buat saya  yang penting dalam integritas adalah bersikap jujur dan mendahulukan kepentingan perusahaan/organisasi daripada kepentingan pribadi. Artinya kita tidak bisa merencanakan suatu aturan perusahaan yang berpijak pada kepentingan pribadi kita semata.

Saya pernah menemukan seorang manajer SDM yang mengubah peraturan pensiun untuk kepentingannya. Akhirnya saya lihat reputasinya hancur, sayang ya
Saya pikir reputasi itu sangat penting , karena biasanya profesional MSDM direkrut tidak hanya karena kompetensi MSDM saja, tapi juga kepercayaan/trust
Sikap lain yang juga penting adalah respek, baik terhadap sesama profesi maupun pada profesi lain, terlebih lagi pada karyawan.
Kita itu bertugas untuk membentuk sikap karyawan, jadi jangan harap bisa berhasil kalau kita tidak respek pada mereka

Tips malam ini :

  • Terus menerus belajar dan menghasilkan kinerja yang tertinggi adalah sikap professional yang perlu terus dijaga
  • Compliance atau kepatuhan pada peraturan dan undang2 rasanya suatu kewajiban.
  • Yang terpenting dan mampu menjaga reputasi kita sebagai professional MSDM tentunya integritas terhadap organisasi
  • Sebetulnya cukup banyak sikap dan perilaku yang terkait dengan profesi MSDM, tetapi saya mengangkat sebagian yang berdasarkan pengalaman saya cukup penting dalam menjalankan pekerjaan saya di bidang MSDM.
  • Bagi teman-teman yang baru mulai berkarir di MSDM, mungkin sering kali dihadapkan pada situasi yang membingungkan, apa yang sebaiknya dilakukan (ini saya hadapi juga dulu), karena etika ini tidak ada formulanya. Saran saya, banyak bertanyalah pada rekan senior yang Anda anggap punya reputasi etika yang professional. Lama2 Anda akan punya koridor sendiri , yang membuat Anda akan dihargai sebagai Profesional MSDM.

Sekian dulu materi saya ya bu moderator

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Oke Bu Nani..menarik sekali apa yang disampaikan oleh Bu Nani bahwa etika itu bukan mengenai benar atau salah, tapi lebih diterima atau tidaknya di lingkungan kita
Sambil Bu Nani istirahat sebentar, sekali lagi saya menginformasikan link untuk pertanyaan https://www.rumahmsdm.com/pertanyaan-kulgram/

Rumah MSDM
Pertanyaan Kulgram
Visit the post for more.

Oh iya bu Nani, untuk website PMSM saya coba untuk betulkan sedikit: www.pmsm-indonesia.com :pray:

Forwarded message: Nani Koespriani
Wah maaf kalau salah copy
Ada di dalam About PMSM

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Jadi bapak dan ibu bisa melihat kode etik profesi MSDM di website PMSM seperti yang diutarakan bu Nani diatas
Saya sudah menerima beberapa pertanyaan. Jika bu Nani sudah siap, saya akan lemparkan satu pertanyaan dulu bu.

Baca juga:  Implementasi Sertifikasi Profesi berbasis SKKNI di Perusahaan - PT Spindo, Tbk

Forwarded message: Nani Koespriani
Silakan

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Oke, pertanyaan pertama dari Lavinia B. (Baramutiara Prima)
Apa perbedaan etik, etika, dan etiket?
Silahkan bu Nani untuk menjawab

Forwarded message: Nani Koespriani
Oke, pertanyaan pertama dari Lavinia B. (Baramutiara Prima)
Apa perbedaan etik, etika, dan etiket?
Waduh, saya perlu jadi ahli bahasa ya.
Setahu saya Etiket itu berkenaan dengan sopan santun, sedang etika itu adalah norma benar dan salah dalam pandangan suatu kelompok tertentu

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
oke..kita lanjut ke pertanyaan kedua ya bu Nani

Forwarded message: Nani Koespriani
Siaaap

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Dari pak Noeradji Prabowo (Proquaman)
Sbg orang HRD sering menengok yg sedang bekerja di shift 3 apakah termasuk salah satu bentuk profesional juga ya?

Forwarded message: Nani Koespriani
Dari pak Noeradji Prabowo (Proquaman)
Sbg orang HRD sering menengok yg sedang bekerja di shift 3 apakah termasuk salah satu bentuk profesional juga ya?
Lho, menengok shift 3 tujuannya apa pak?
Kalau untuk memastikan bahwa karyawan shift 3 dapat bekerja dengan baik dan nyaman tentunya sangat baik dan profesional (kan mau menghasilkan kinerja tertinggi).
Tapi kalau semata2 jadi “polisi” karyawan tentunya tidak perlu.

Dulu waktu di stasiun TV saya sering berkunjung ke karyawan shift malam, memastikan mereka cukup makan, istirahat . Bahkan pernah pulang jam 4 pagi dan kembali ke kantor tepat jam 8 lagi. Ini juga bermanfaat agar kita memahami operasional dg lebih detail. Bagian dari pemahaman proses bisnis kan.

Ini pendapat dan pengalaman saya lho pak, mudah2 an menjawab

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Jawaban yang mencerahkan, jadi harus dikembalikan lagi ke tujuan menengok itu apa.

Forwarded message: Nani Koespriani
Iya penekanan pada kata “sering” mungkin perlu dibahas ya?

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
noted bu..

Forwarded message: Nani Koespriani
Ini mmg relatif, kan ada atasannya, jadi kalau saya tidak akan terlalu sering.

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Lanjut ya bu..masih ada beberapa pertanyaan menarik

Forwarded message: Nani Koespriani
Silakan, boleh sambil minum kan?

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Silahkan bu Nani :blush:
Dari Pak Wing Antariksa (PGN)
1. Menurut Ibu, dg ramainya interaksi dan jejaring praktisi SDM di SosMed, adakah potensi terjadinya pelanggaran kode etik profesi SDM?
2. Apakah komite etik profesi SDM sudah ada/sudah saatnya diperlukan?

Forwarded message: Nani Koespriani
Halo pak wing
Dari Pak Wing Antariksa (PGN)
1. Menurut Ibu, dg ramainya interaksi dan jejaring praktisi SDM di SosMed, adakah potensi terjadinya pelanggaran kode etik profesi SDM?
2. Apakah komite etik profesi SDM sudah ada/sudah saatnya diperlukan?

Mestinya bisa jawab sendiri ya
1. Pastinya ada pak. Dengan socmed segala info cepat tersebar, baik yg benar maupun yg salah. Kuncinya ada di Hati Nurani!! Hanya ini rem nya. Makanya saya tulis di atas, sebelum posting perlu tanya pada hati nurani, apa akibatnya buat perusahaan dan karyawan.
2. Kalau ada Kode Etik Profesi, seharusnya ada Komite Etik. Tapi Kode Etik nya kita sempurnakan dulu lah pak…..

Menjawab nggak pak Wing?

Ada pertanyaan lain mbak?

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Menurut pak Wing, sudah menjawab pertanyaan
Dari pak Heri Bimantara Husni (Bank BRISyariah)
Saat ini,dibeberapa perusahaan,profesi SDM masih bersifat administratif dan dianggap “kaki” oleh Manajemen.
Selain paham core business,Hal apa yang bisa dilakukan agar profesi SDM dipandang sebagai partner bisnis strategis / advisor bagi manajemen puncak ?
Terima Kasih

Forwarded message: Nani Koespriani
Haa, ini pertanyaan bagus banget
Saya cerita pengalaman saja ya pak :

  • dimana pun saya bekerja saya selalu jaga integritas. Intinya yg saya tulis di atas, itu benar2 saya jalankan. Konsekuensinya ada tempat yang cocok dan ada yg tidak.
  • selalu berusaha memahami proses bisnis dg baik. Jadi bisa antisipatif. Kalau kita tidak memahami ya pantas kan kalau HR itu cuma disuruh2?
  • saya selalu minta agar HR diikutsertakan dalam business meeting, jadi bisa mengikuti semua perubahan external challenge yg mengakibatkan perubahan strategi bisnis.

Nah yg terakhir agak sulit barangkali : saya selalu minta fungsi MSDM ada di BOD, supaya dekat dengan pengambil keputusan.
Yg terakhir ini rasanya bisa kalau manajemen percaya pada kemampuan dan integritas kita
HR sbg business partner rasanya ada kulgramnya ya

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Ada bu Nani, hari Kamis ini dengan Pak Joris

Forwarded message: Nani Koespriani
Nah, bisa lebih tajam tuh pak Joris, dulu pernah satu perusahaan dg saya
Tambahan sedikit ya
Hasil kerja kita akan menentukan reputasi kita. Tapi saya tidak bilang administratif itu tidak penting lho, kan itu juga salah satu role MSDM

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Bu Nani, masih ada 1 pertanyaan lagi. Masih berkenan untuk melanjutkan bu?

Forwarded message: Nani Koespriani
Boleh dong

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Siaap bu
Dari pak Miftah Amin (Perusahaan swasta yg berlokasi di Ds Banuayu Sumsel)
Dear Ibu Nani,
Terima kasih Kulgramnya; menarik sekali…
Dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, seringkali ditemukan keterpaksaan untuk melakukan “under table payment” yang untuk mempercepat proses pengurusan dokumen dan hal tersebut menjadi praktek yang umum dilakukan oleh perusahaan lainnya. Apabila tidak melakukannya, ada kekhawatiran akan kurangnya perhatian petugas untuk menyelesaikan dokumennya tepat waktu (di beberapa kasus, dokumen tersebut sangat penting bagi kelancaran supply bahan baku). Sebagai seorang karyawan HR, cukup dilematis dalam menghadapi masalah ini.
Bagaimana saya harus bersikap, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang terhadap praktek-praktek semacam itu? Say no for such payment without providing solution akan menyulitkan perusahaan nantinya.

Baca juga:  Strategi Remunerasi

Forwarded message: Nani Koespriani
Ini dia, buah simalakama ya pak
Saya coba jawab sbb :
– perlu tanya pada diri sendiri : apakah bapak terganggu dengan keadaan ini?
Apakah perusahaan tidak memiliki value yang melarang tindakan ini?
Kebetulan saya selalu bekerja di organisasi yang melarang hal2 semacam ini, jadi hampir tidak ada conflict antara value pribadi saya dengan value perusahaan

– apakah tidak ada bentuk lain yang bisa dilakukan?
Saya sering menyarankan rekan kerja saya untuk “berteman” dengan petugas di instansi terkait. Bila hubungan baik tentunya proses juga akan lancar.
Mmg kita akan melawan arus, tetapi bukankah profesional MSDM perlu jadi pelopor?

Maaf pak, kalau jawaban saya terlalu idealis, ini sikap pribadi pak. Minimal jangan kita yang melakukan, kalau tidak bisa mengubah budaya perusahaan
Mungkin bisa dicoba pak, kan baru kekhawatiran proses tidak lancar

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
memang kondisi yang tidak mudah untuk dihadapi sepertinya.
Mengingat waktu sudah hampir jam 10. Saya berikan kesempatan kepada bu Nani untuk memberikan kesimpulan akhir secara singkat

Forwarded message: Nani Koespriani
Intinya : profesional MSDM akan dipandang penting di organisasi kalau kita menjalankan dan menunjukkan sikap dan perilaku serta integritas sesuai etika profesi MSDM

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Terima kasih bu Nani untuk Kulgram malam ini yang banyak memberikan inspirasi dan juga menjawab pertanyaan2 yang sering muncul di kehidupan kita sehari2 sebagai profesional MSDM

Forwarded message: Nani Koespriani
Terima kasih juga untuk team in-service mbak Indria dan mas Denni yg sdh membantu saya dalam persiapan kulgram ini
Mudah2 an kulgram singkat ini bermanfaat.

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Saya yakin bermanfaat bagi kita semua. Bagi bapak dan ibu yang masih ingin  berdiskusi, monggo selama bu Nani belum beristirahat atau bisa dilanjutkan besok
Selamat malam :pray::blush:

Forwarded message: Nani Koespriani
Silakan

Forwarded message: Indria Ratna Hapsari
Dengan ini Kulgram malam ini saya tutup. Terima kasih bu Nani dan bapak ibu sekalian
Selamat pagi bapak dan ibu
Terima kasih yang sudah mengikuti Kulgram semalam. Kami menerima pertanyaan yang masih belum terjawab karena keterbatasan waktu. Dan pagi ini bu @NaniKoes akan mencoba menjawab
Rieswan @Rieswan  (independent consultant)

  1. apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang professional HR disaat dia dihadapkan terhadap sebuah dilema tanggung jawab moral professional HR?
  2. Seberapa besar pengawasan PMSM terhadap anggotanya yang melanggar Etika PMSM?

Forwarded message: Nani Koespriani [Tue] 
Selamat pagi mbak Indria
Baik, saya jawab ya
Selamat pagi pak Rieswan
Pertanyaan pertama Anda tidak begitu spesifik ya, tapi akan saya coba jawab.
Mungkin yang dimaksud dengan dilemma tanggung jawab moral  profesional MSDM itu adalah harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan etika profesional yg kita bahas semalam?
Tentu kita sering menghadapi hal ini. Yang saya lakukan adalah :
– cek apakah etika pribadi saya sejalan dg etika profesional tsb?
Kalau tidak tentu tidak ada dilemma
Kalau ya ( dan umumnya saya setuju),  saya akan ikuti sejauh mungkin hati nurani saya dengan tidak merugikan perusahaan

Untuk pertanyaan kedua ;
Kode Etik Profesi MSDM yg disusun PMSM masih harus disempurnakan. Sifatnya lebih banyak sebagai panduan. Jadi belum ada tindakan apapun, juga belum ada Komite etik.
Sekarang ini tahap sosialisasi dan imbauan pada para profesional MSDM utk menerapkannya

[7:10:13 AM] Rumah MSDM Arsip:
Forwarded message: Miftahuddin Amin [Tue]  
Ibu Nani,
Apakah Karyawan yang bekerja di bidang MSDM itu dikategorikan sebagai “Profesi” yang setara dgn Accountant atau Psikolog?

Forwarded message: Nani Koespriani [Tue]  
Selamat pagi pak,
Saya itu bukan ahli bahasa ya pak, tapi karena ada kata “setara” , saya ingin mengatakan YA. Seperti yang semalam saya uraikan, kalau bukan kita yang menyetarakan, lalu siapa lagi?
Hanya saja kita blm punya asosiasi profesi yg solid , demikian juga kode etik yang dijalankan dg konsisten

Forwarded message: Miftahuddin Amin [Tue]  
Semoga ke depan menuju ke arah profesi yang sebenarnya – berperilaku dan bertindak dgn values do no harm and always people treated as subject sebagaimana Coach DT sampaikan, selain mumpuni dari sisi technical competencies..
Terima kasih atas pencerahannya ya, Ibu… :pray:

Forwarded message: Denny Turner [Tue]  
Ibu Nani yth – apakah dalam kode etik  profesi MSDM yang sedang disusun PMSM jelas dicantumkan prinsip “do no harm” – yang menurut hemat saya adalah value paling mendasar dari seorang praktisi HR di lapangan? Layaknya sumpah Hippocrates seorang dokter?

Terlalu banyak harm yang terjadi di bidang pengelolaan SDM saat praktisi SDM tidak bisa menjaga prinsip ini – atau malah tidak punya prinsip ini – khususnya di saat menterjemahkan value efisiensi lantas memperlakukan “people as object”. Tidak ada konteks dan tidak ada pengelolaan aspek sosial. Melulu aspek teknis dan komersial yang dikedepankan.

Terima kasih Ibu.

Forwarded message: Nani Koespriani [Tue]  
Iya pak setuju banget. Banyak sekali hal2 yang tidak pasti dan subjektif dalam pekerjaan kita. Jadi kalau kita tidak punya rem sendiri agak repot ya.

Justru karena itu etika profesi menjadi penting, karena ini mengandalkan hati nurani.

Saya sendiri berlatar belakang teknik, lalu dilanjutkan dg Finance. Semua serba jelas. Tapi saya menyadari ujung2nya manusia juga yg harus diurus dg baik. Cukup sulit bagi saya utk menyesuaikan mindset saya. Akhirnya panduan saya ya etika ini, alhamdulillah sejauh ini efektif

Forwarded message: Denny Turner [Tue]  
Terima kasih banyak untuk the meeting of the minds nya.