PKWT adalah sebuah singkatan “resmi” dari istilah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang berarti bahwa hubungan kerja yang dikuatkan dengan sebuah perjanjian kerja tertulis ditetapkan masa berlakunya. Sedangkan PKWTT yang adalah singkatan “resmi” dari istilah Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu mengindikasikan bahwa hubungan kerja yang diperjanjikan itu tidak ditentukan masa berlakunya. Dalam praktik, istilah yang sering digunakan sehari-hari dalam lingkungan dunia usaha untuk PKWT adalah hubungan kerja bersifat “kontrak” sedangkan untuk PKWTT adalah hubungan kerja bersifat “permanen”. Semua istilah itu sudah sangat familiar bagi para praktisi manajemen sumber daya manusia terutama yang tugasnya menangani hubungan industrial dan juga menangani hubungan kerja.
Tulisan ringkas saya ini TIDAK akan membahas berbagai aspek hukum PKWT. Fokus tulisan saya adalah pada apa yang seharusnya dilakukan sebuah perusahaan atau organisasi lain bila menggunakan sumber daya manusia dengan status PKWT.

PKWT vs. PEKERJA “CASUAL”.
Pada banyak negara industri maju seperti USA, negara-negara Eropa dan Australia, ada konsep atau hubungan kerja yang bersifat tidak permanen yang banyak digunakan disebut “Casual Work”. “Casual Work” bisa disebut sebagai hubungan kerja bebas atau “semaunya”. Kalau pekerja datang (mau datang) untuk bekerja maka pekerja dibayar pada hari itu juga pada saat selesai kerja. Tetapi kalau kita mau seminggu sekali juga bisa.
Hubungan kerja “casual” biasanya hanya dipakai untuk jenis-jenis pekerjaan yang tidak terampil atau semi terampil dan pekerjaan yang memang tidak terus-menerus ada. Saya pribadi pernah mengalami bekerja sebagai casual worker di pabrik furniture sebagai operator selama libur akhir tahun. Juga di Dinas Pekerjaan Umum kota sebagai penginput data statistik dan sebagai pengolah data hasil survei preferensi calon konsumen terhadap produk yang akan dikembangkan. Tiga jenis pekerjaan “casual” itu saya lakukan saat saya kuliah MBA di Australia 45 tahun lalu.

Baca juga:  Reportase Acara Rumah MSDM 13 Januari 2018

PERUSAHAAN HARUS BERSYUKUR DENGAN ADANYA KONSEP PKWT.
Adanya peluang untuk mempekerjakan orang dengan ketentuan PKWT seharusnya disyukuri oleh para pengusaha. Keuntungan bagi perusahaan adalah bahwa pada suatu saat yang telah diperhitungkan, saat beban kerja operasional mungkin menurun atau selesai maka hubungan kerja dengan pekerja bisa diakhiri sesuai isi perjanjian yang ditandatangani oleh pihak pekerja dan pihak pemberi kerja. Pemutusan hubungan kerja sebagai konsekuensi dari berakhirnya kontrak seringkali tidak menimbulkan masalah hubungan industrial. Prosesnya berjalan normal saja tanpa gejolak protes atau sejenisnya, kecuali bila pekerja menganggap bahwa pemberi kerja telah melakukan pelanggaran tertentu.
Sehubungan dengan itu, maka SEHARUSNYA dan sewajarnya, perusahaan yang menggunakan PKWT memperlakukan tenaga kerja yang dipekerjakan atas dasar PKWT bukan hanya sama baik tetapi malah HARUS LEBIH BAIK daripada pekerja yang diikat secara permanen (PKWTT). Tentu saja selama beban kerja dan tanggung jawab mereka yang berstatus PKWT dan PKWTT sama/seimbang. Pekerja yang terikat hubungan kerja secara permanen punya “job security” (jaminan/rasa aman akan bekerja terus) selain mendapat berbagai benefits lainnya.
Misalnya, selain diberikan THR, semua pekerja berstatus PKWT juga harus dilindungi dengan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan dan juga berhak mendapat insentif atau bonus yang berbasis kinerja korporasi selain kinerja pekerja itu sendiri.
Selain daripada itu, pekerja berstatus PKWT juga harus mendapat Uang Jasa saat perjanjian kerja mereka berakhir. Bila pekerja yang berstatus PKWT dan masa kontraknya melewati hari raya Idul Fitri, mereka harus diberikan THR yang besarnya prorata tergantung pada lama masa kerja mereka sesuai ketentuan Permenaker yang berlaku. Jadi, mereka diperlakukan sama dengan pekerja yang “permanen”. Demikian pula hak cuti tahunan mereka sesuai dengn ketentuan dalam UU No. 13 Th. 2003 Pasal 58 dan 59 dan Kepmenaker No.100 tahun 2004.

Baca juga:  Be An Indispensable Employee

Pesan Penutup.
Penggunaan PKWT seharusnya BUKAN dengan tujuan untuk menekan/menghemat biaya tena ga kerja yang rutin tetapi lebih kepada penghematan biaya yang bersifat jangka panjang.
Itu pendapat saya dan pernah saya terapkan.

Jakarta 7 Nopember 2016
Achmad S. Ruky