“BE AN INDISPENSABLE EMPLOYEE”.

Sebutan “Indispensable Employee” populer sejak pertengahan tahun 1980an di kalangan para praktisi MSDM yang bekerja di perusahaan asing dan banyak digunakan dalam buku-buku dari A.S. Indispensable adalah sebuah kata dalam bahasa Inggris yang punya arti: “Sesuatu atau seseorang yang TIDAK BISA DIABAIKAN dan MUTLAK harus dilibatkan dalam upaya menyelesaikan sebuah kegiatan, pekerjaan, atau proses, – karena kompetensinya yang mumpuni dan akumulasi pengalamannya yang relevan. Lawan katanya adalah “dispensable” yang punya arti sebaliknya.

Para pekerja yang masuk dalam kategori profesional biasanya punya nilai yang sangat tinggi “di mata” pemberi kerja/pimpinan perusahaan sehingga termasuk dalam kategori “indispensable” dan “hampir tidak bisa disingkirkan”. Bila penyingkiran dilakukan juga maka perusahaan akan mengalami kesulitan mencari gantinya dan itu ada konsekuensinya. Tetapi, beberapa minggu lalu saya melihat sebuat foto di bawah ini dimuat di LinkedIn.

artikel-pak-ruky-01

Dapat diperkirakan bahwa orang yang membagikan kartu yang berisi permintaan bantuan untuk memberi info bila ada lowongan tersebut bukan seorang pekerja sembarangan. Ia ternyata termasuk seorang tenaga profesional yang penah menduduki jabatan pada level manajerial. Ia berpengalaman sebagai manajer pemasaran dan mempunyai kualifikasi yang sangat mumpuni. Foto itu mendapat banyak sekali respon yang bernada simpatik dan menawarkan bantuan kepada orang tersebut. Hampir semua komentar juga memuji orang yang diceriterakan di tulisan itu sebagai orang yang kreatif dan inovatif dalam “memasarkan” dirinya.

Di satu sisi saya setuju dengan komentar2 yang memuji kreativitas dan sifat inovatif orang itu. Tetapi, dari sisi lain, saya juga merasa penasaran mengapa seorang yang berkualifikasi seperti itu telah menganggur selama lebih dari 12 bulan dan sampai terpaksa harus mencari pekerjaan dengan menawar-nawarkan dirinya kepada orang yang ditemuinya di jalan atau dalam angkutan umum. Sewaktu saya mengajukan pertanyaan itu dalam komentar saya, seseorang menjawab bahwa saya mungkin tidak mengetahui kondisi ekonomi Amerika Serikat yang sedang tidak sehat. Kondisi tersebut telah mengakibatkan “bertumpuk”- nya orang yang mempunyai kualifikasi seperti orang yang menganggur itu. Penjelasan itu membuat saya cukup terkejut dan bertanya-tanya.

Baca juga:  Berbicaralah Menggunakan Data

Apa yang bisa menyebabkan orang itu bernasib seperti itu? Bila orang itu tidak diberhentikan karena berbuat kesalahan besar yang bersifat pidana, melanggar Peraturan Perusahaan, atau Kode Etik, sebuah pemutusan hubungan kerja biasanya terjadi karena alasan di bawah ini:

  1. Perusahaan mengalami kebangkrutan total atau dilikuidasi karena berbagai alasan. Bila ini yang terjadi, biasanya seluruh karyawan akan diberhentikan. Kesempatan untuk bekerja kembali di perusahaan tersebut tergantung apakah perusahaan yang bangkrut itu ada yang mengambil alih dan menghidupkannya kembali. Tetapi proses seleksi akan sangat ketat. Hanya tenaga kerja yang benar-benar dianggap “kunci” akan ditawari pekerjaan di perusahaan yang baru.
  2. Perusahaan mengalami kelebihan orang dan dia termasuk dalam kelompok karyawan yang dianggap berlebih sehingga kena “rasionalisasi”? Lalu mengapa sebuah perusahaan bisa mengalami kelebihan tenaga kerja? Bisa terjadi karena salah satu dari alasan-alasan ini.

Pertama, pimpinan perusahaan menyadari bahwa mereka selama ini beroperasi secara tidak efisien dan komponen biaya yang paling menjadi beban adalah biaya sumber daya manusia. Untuk bisa survive, mau tidak mau, mereka harus mengurangi jumlah tenaga kerja.

Kedua, Perusahaan melakukan perubahan dalam strategi (cara melaksanakan) bisnisnya. Perubahan strategi itu bisa salah satu atau dua dari kemungkinan di bawah ini.

  1. Pekerjaan-pekerjaan yang termasuk NON CORE (tidak inti) dan mungkin juga sebagian dari aktivitas CORE (inti) yang semula ditangani sendiri, diputuskan untuk diserahkan pengerjaannya pada perusahaan lain yang dibayar oleh perusahaan yang menyerahkan pekerjaan tersebut sesuai bunyi kesepakatannya. Cara itu dikenal sebagai “outso urcing”. Pekerjaan-pekerjaan yang bersifat pelayanan seperti kebersihan, pengamanan dan jasa-jasa lainnya sudah umum dioutsourced. Tetapi, pekerjaan yang semula dianggap “core” dan biasa dikerjakan sendiri dan bisa saja diserahkan ke perusahaan lain yang bukan “anggota keluarga” (misalnya anak perusahaan) adalah:
    – Pembelian bahan baku dan bahan pembantu.
    – Packing, pergudangan dan distribusi produk ke daerah pemasaran.
    – Penjualan seluruh produk.
    – Pembuatan sebagian besar komponen untuk produk utama.
    – Seluruh proses produksi atau seluruh pekerjaan konstruksi.
    – Seluruh pekerjaan pemeliharaan sarana dan fasilitas produksi.
    Akibatnya maka pekerjaan yang semula dikerjakannya sebagai karyawan perusahaan menjadi tidak ada dan pekerjanya menjadi berlebih (“redundant”).
  2. Perusahaan memutuskan untuk menggunakan teknologi baru yang sangat berbeda dari teknologi yang sebelumnya digunakan.
Baca juga:  Diskusi Pagi 29 Nopember 2016

Apapun alasannya, bila seseorang masuk ke dalam kelompok yang bisa “dilepas” dengan mudah dan tiap saat perusahaan ingin melakukannya, maka itu adalah sebuah indikator bahwa orang itu termasuk dalam kelompok karyawan yang dengan mudah bisa “disingkirkan”.

APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK BISA MENJADI SEORANG “INDISPENSABLE EMPLOYEE”.
Beberapa cara yang semua praktisi dan pakar selalu sarankan adalah di bawah ini:

  1. Selalu Memperkaya dan Memperkuat Kompetensi Diri. Jangan pernah merasa bahwa anda sudah “jago” dalam suatu bidang keahlian dan tidak memikirkan lagi untuk mengukurnya. Ingat, dalam ceritera silat ada pemeo yang berbunyi; “Di atas langit masih ada langit”. Manfaatkan tiap ada kesempatan untuk mereview kompetensi diri. Selalu menyiapkan diri melalui peningkatan dan pengayaan kompetensi secara berkelanjutan. Bila ada kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan jangan sia-siakan. Pada saat yang sama, usahakan untuk selalu mencapai kinerja tinggi dalam pekerjaan.
  2. Jangan Terlalu Menikmati Comfort Zone (zona nyaman, saat segala hal berjalan baik) sehingga menjadi terlena. Seorang profesional yang berada dalam posisi indispensable pun harus selalu waspada dan tidak terlena. Sesuatu yang tidak diharapkan bisa terjadi juga karena faktor-faktor di luar kendali perusahaan apalagi kendali dia. Bila sesuatu yang buruk terjadi juga dan memaksanya meninggalkan pekerjaan dan perusahaan tempatnya bekerja ia akan sudah siap dengan beberapa rencana. Ia tinggal pilih rencana yang paling tepat untuk situasi yang dihadapinya.

Penutup.
Dengan mampu mencapai posisi “indispensable” kita akan sulit disingkirkan. Seorang yang “indispensable” malah akan berada dalam posisi yang bisa memutuskan hubungan kerja dengan perusahaan kapan saja dia mau. So, inti pesan saya adalah: “Be indispensable and be alert all the time!”

Baca juga:  Pertanyaan & Jawaban Tentang Peran, Tanggung Jawab Dan Kontribusi Pimpinan Fungsi MSDM Dalam Korporasi.

Selanjutnya terserah anda. Bila anda punya prinsip “ngapain pusing pusing, gimana nanti saja” ya itu keputusan anda.

Jakarta 3 Nopember 2016

DR. Drs. Achmad S. Ruky, MBA